Kala Unisa Yogyakarta Mendiskusikan Puasa dari Perspektif Lintas Agama

  • 27 Feb 2026 21:45 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Sebuah forum dialog yang berbobot digelar oleh Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta. Dalam rangka menyemarakkan bulan Ramadan, Unisa menggelar Dialog Ruang Ketiga bertajuk Puasa dalam Perspektif Agama-Agama.

Acara itu berlangsung, Kamis, 26 Februari kemarin, di Lantai 2 Masjid Walidah Dahlan. Menariknya empat narasumber dengan berlatar belakang keyakinan yang berbeda dihadirkan untuk membahas persoalan dan makna puasa.

Empat narasumber yang hadir dalam dialog tersebut yaitu Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Urusan Internasional Unisa Yogyakarta, Moh Ali Imron, sebagai pemeluk Islam. Kemudian, Leonard Chrysostomos Epafras, dari Kristen, lalu Ontran Sumantri Riyanto dari Katolik, serta AKBP (Purn) I Nengah Lotama mewakili umat Hindu.

Mantan perwira Polri, I Nengah Lotama, menjelaskan dalam ajaran Hindu, puasa dimaknai sebagai proses pencarian jati diri. Puasa tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi sarana untuk mengendalikan diri dan melakukan introspeksi.

“Melalui puasa seseorang diajak untuk menata kembali sikap dan perilakunya agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang,” ujar mantan Kapolsekta Gondomanan, Kota Yogyakarta ini.

Sementara itu, bagi Leonard Chrysostomos Epafras, dirinya memandang ibadah puasa di agama Kristen, lebih bersifat personal dan tidak terlalu terikat oleh aturan yang kaku.

“Puasa menjadi ruang bagi setiap individu untuk membangun kedekatan dengan Tuhan, salah satunya dengan menahan diri dari kebiasaan tertentu atau hal-hal yang dianggap dapat mengganggu pertumbuhan spiritual,” kata dia.

Hal yang hampir senada juga diungkapkan Ontran Sumantri Riyanto. Di dalam keyakinan Katolik, Ontran menyebutkan, praktik puasa dan pantang dilakukan secara lebih terstruktur.

“Umat Katolik dianjurkan untuk berpuasa pada usia 18 sampai 60 tahun, sedangkan pantang dianjurkan mulai usia 14 tahun,” ucapnya, pada forum yang dihadiri ratusan mahasiswa Unisa dan masyarakat umum ini.

Ontran Sumantri Riyanto menambahkan, ajaran Katolik menekankan bahwa puasa dan pantang bertujuan melatih disiplin diri. “Selain itu juga puasa juga mengajak umat untuk hidup lebih sederhana dan peduli terhadap sesama,” katanya.

Sedangkan dalam perspektif Islam, Ali Imron menuturkan, puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi umat muslim yang mampu menjalankannya. Namun, Islam juga memberikan berbagai keringanan.

“Anak-anak yang belum mampu tidak diwajibkan berpuasa, begitu pula dengan orang lanjut usia, orang sakit, atau mereka yang sedang dalam perjalanan. Bagi yang tidak mampu secara fisik, terdapat ketentuan seperti fidyah sebagai bentuk pengganti,” ujar Ali Imron.

Ia menegaskan, pada dasarnya ajaran Islam tidak memberatkan, melainkan memberikan kemudahan agar umat dapat menjalankan ibadah sesuai dengan kemampuannya.

Dialog Ruang Ketiga ini bertujuan untuk membangun pemahaman bersama mengenai makna puasa dari berbagai perspektif agama. Melalui kegiatan ini, peserta diajak melihat bahwa meskipun setiap agama memiliki tata cara yang berbeda, nilai yang diajarkan memiliki kesamaan, yaitu menumbuhkan empati, memperkuat spiritualitas, serta mempererat persaudaraan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....