Mengenal Tradisi Punggahan di Padukuhan Mejing
- 20 Feb 2026 13:18 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman – Warga Padukuhan Mejing, Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman masih konsisten melestarikan tradisi punggahan menjelang Ramadan. Salah satu warga Padukuhan Mejing Lor, Ratmi menjelaskan tradisi punggahan ini merupakan kegiatan makan malam bersama sekaligus makan terakhir yang dilakukan pada momentum salat tarawih pertama.
Tradisi ini digelar untuk menandai masuknya bulan Ramadan. Ratmi mengatakan, tradisi ini rutin dilaksanakan setiap bulan puasa sejak puluhan tahun lalu. Ratmi menjelaskan, menu dalam kegiatan punggahan ini meliputi nasi uduk, telur dadar iris, ayam suwir, tempe, dan kacang goreng. Lazimnya, hidangan ini disajikan dalam wadah takir yang terbuat dari daun. Namun, kini hidangan punggahan dikemas dalam kemasan mika agar lebih praktis.
“Kalau nasi uduk itu lebih spesial, sudah gurih dari nasinya, lauknya juga lengkap. Cocok untuk acara bersama,” ujar Ratmi saat dikonfirmasi, Jumat, 20 Februari 2026.
Ratmi mengatakan, tradisi punggahan turut dikoordinir oleh masing-masing RT. Makanan juga dimasak oleh para jamaah masjid. Tiap masjid memiliki jumlah jamaah yang bervariasi. Rata-rata mencapai 200-300 orang. Ratmi menyebut, tradisi ini tidak hanya sebagai penanda makan terakhir sebelum puasa, tetapi juga untuk membangkitkan semangat menyambut Ramadan serta mempererat silaturahmi antarwarga.
“Masak bareng, ketemu bareng, itu yang bikin akrab. Dulu karena pakai takir, makannya juga bareng di masjid,” kata Ratmi.
Tradisi punggahan sempat terhenti saat pandemi, namun kembali dilaksanakan setelah situasi membaik. Warga berharap tradisi ini terus dijaga sebagai warisan budaya sekaligus sarana memperkuat ukhuwah menjelang Ramadan. Sementara itu, berbagai kegiatan rutin dilakukan di Padukuhan Mejing selama bulan Ramadan. Mulai dari pengajian, takjilan, hingga kegiatan tadarus.
“Menjelang buka pengajian dan bagi takjil, kita buka bersama di masjid. Nanti kultum, doa menjelang buka, baru nanti makan bersama. Lalu dilanjutkan kultum dan tadarus untuk ibu-ibu, bapak-bapak, dan remaja. Saat subuh, itu kultum setelah salat subuh dan dilanjut tadarus sampai surup,” ujar Ratmi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....