Tradisi Nyadran Lestarikan Nilai Budaya di Grojogan Tamanan
- 08 Feb 2026 17:44 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Warga Desa Grojogan Tamanan, Kapanewon Banguntapan, Bantul, menggelar tradisi Nyadran. Tradisi ini dilaksanakan sebagai bentuk pelestarian budaya dan penghormatan leluhur, Minggu 8 Februari 2026.
Kegiatan Nyadran berlangsung di Masjid Margorahayu pada Minggu pagi. Lokasi masjid berdekatan dengan kompleks pemakaman Nduwet setempat.
Prosesi Nyadran diawali dengan kerja bakti membersihkan makam leluhur. Warga kemudian melaksanakan doa bersama di area masjid.
Usai doa, warga menggelar kenduri dengan membawa aneka hidangan tradisional. Makanan disusun rapi lalu disantap bersama sebagai simbol kebersamaan.
Seluruh peserta Nyadran tampak kompak mengenakan busana adat Jawa. Mereka memakai baju sorjan bermotif lurik, jarik, serta blangkon secara seragam.
Seperti diungkapkan salah satu warga Suminto, bahwa kegiatan seperti ini menyatukan warga desa sekaligus mendoakan arwah leluhur.
"Kami supaya seragam menggunakan sorjan lurik dan jarik, supaya terasa kekompakannya, dan setelah bersih bersih makam kami berdoa bersama untuk leluhur kami dan ini sudah jadi budaya kami disini," ujarnya.
Tradisi Nyadran merupakan ritual budaya Jawa menjelang bulan Ramadan. Ritual ini mengandung nilai spiritual, sosial, dan gotong royong masyarakat.
Sejumlah kajian budaya menyebut Nyadran sebagai sarana memperkuat ikatan sosial. Tradisi ini juga menjadi media transmisi nilai antargenerasi.
Warga berharap tradisi Nyadran terus lestari di tengah perubahan zaman. Kegiatan ini menjadi identitas budaya masyarakat Grojogan Tamanan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....