Enam Kali Juara, Cukesa Ngalangan Buktikan Bina Atlet Muda Menjaga Tradisi Juara
- 04 Okt 2026 17:44 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman — Tim bola voli putra Cukesa dari Padukuhan Ngalangan kembali menunjukkan dominasinya dalam Pekan Olahraga Kalurahan (Porkal) Sardonoharjo 2026. Bertanding di Blekik Sport Center, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Sabtu 3 Oktober 2026, Cukesa Ngalangan berhasil merebut gelar juara untuk keenam kalinya.
Partai final berlangsung meriah dengan ribuan penonton memadati Blekik Sport Center. Bupati Sleman Harda Kiswaya turut hadir menyaksikan langsung pertandingan puncak tersebut, bersama masyarakat dan para pendukung kedua tim.
Bintang dan kawan-kawan harus menghadapi perlawanan sengit Beldeg 13 dari Padukuhan Ngebel Gede. Kedua tim tampil agresif sejak awal pertandingan. Adu smash keras, pertahanan, serta variasi serangan membuat pertandingan berlangsung menarik. Beldeg 13 sempat memberikan tekanan, tetapi Cukesa mampu bermain lebih tenang hingga akhirnya menyudahi pertandingan dengan kemenangan 3-1.
Bintang tampil menonjol sepanjang turnamen dan dinobatkan sebagai pemain terbaik. Penampilannya menjadi salah satu faktor penting yang membawa Cukesa kembali mengangkat trofi Porkal Sardonoharjo.
Pelatih Cukesa Ngalangan, Didik Kurnianto, mengatakan ketenangan dan kesabaran menjadi kunci kemenangan timnya.
“Kunci kemenangan ini kami bermain tenang dan sabar. Alhamdulillah kami bisa mempertahankan gelar juara,” ujar Didik.
Menurut dia, keberhasilan Cukesa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pemain senior. Perpaduan antara pemain berpengalaman dengan talenta muda dari Akademi Cukesa Ngalangan menjadi bagian penting dari kekuatan tim.
Menariknya, keberadaan akademi tersebut tidak terlepas dari pengalaman pahit Cukesa pada Porkal 2024. Saat itu, Cukesa harus mengakui kekalahan di partai final. Kekalahan tersebut justru menjadi momentum evaluasi dan mendorong lahirnya sistem pembinaan pemain muda.
“Ini adalah juara keenam kalinya. Kami hanya satu kali kalah di final, yaitu pada 2024. Kekalahan tersebut membuat kami semakin termotivasi sehingga lahirlah Akademi Cukesa Ngalangan,” kata Didik.
Kisah Cukesa menunjukkan bahwa keberhasilan olahraga di tingkat kalurahan tidak selalu lahir secara instan. Prestasi dapat dibangun melalui proses pembinaan, regenerasi dan keberanian menjadikan kekalahan sebagai bahan evaluasi.
Model tersebut juga menjadi penting bagi pengembangan olahraga masyarakat. Kompetisi tingkat kalurahan tidak hanya menjadi ruang untuk mencari juara, tetapi dapat menjadi pintu masuk pembinaan atlet sejak usia muda.
Dukuh Ngalangan, Indra Gunawan, menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat dan para donatur yang selama ini memberikan dukungan kepada tim.
“Terima kasih sebesar-besarnya atas dukungan seluruh pihak, baik dari masyarakat Padukuhan Ngalangan maupun para donatur,” ujarnya.
Namun, kemenangan tahun ini memiliki makna emosional tersendiri bagi masyarakat Ngalangan. Gelar juara tersebut didedikasikan untuk Adnan Aries Wimatama, salah seorang pemain Cukesa Ngalangan yang telah berpulang beberapa waktu lalu.
Bagi Cukesa Ngalangan, trofi keenam bukan hanya catatan prestasi. Gelar tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan berkelanjutan, kolaborasi lintas generasi dan dukungan masyarakat dapat menjadi fondasi penting untuk menjaga prestasi olahraga dari tingkat desa.
Dari lapangan voli di Sardonoharjo, Cukesa memperlihatkan satu pelajaran penting: kekalahan tidak harus menjadi akhir perjalanan. Dengan evaluasi dan pembinaan yang konsisten, kekalahan dapat menjadi awal lahirnya generasi juara berikutnya. (Andy Ahmad/Ajeng)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....