Indonesia Walk For Peace 2026: Perdamaian dari Jogja
- 19 Mei 2026 18:53 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Sebanyak 50 bhikkhu mayoritas dari negara Thailand, Laos, Myanmar, Malaysia, dan tentunya Indonesia sedang berjalan melintasi Jawa Timur menuju arah barat. Bertambah 6 Bhikkhu dari Indonesia, saat ini rombongan mulai bergerak dari Surabaya, kemudian masuk ke Mojokerto menyusuri Trowulan hingga Jombang.
Perjalanan lintas provinsi ini memakan waktu 20 hari, dengan rute Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, menuju Yogyakarta yang menjadi ajang refleksi damai antar umat beragama. Rencana 56 bhikkhu IWFP 2026 ini akan berada di Yogyakarta dari tanggal 25 hingga 27 Mei 2026 dengan berbagai kegiatan.
Saat nantinya memasuki gerbang Candi Prambanan pada 25 Mei 2026 sekitar pukul 13.00 WIB, akan disambut umat Buddha dan masyarakat sekitar dengan tabur bunga di jalan yang akan dilewati rombongan bhikkhu. Dijelaskan Ernest Lianggar Kurniawan selaku Panitia IWFP 2026 Jateng dan DIY makna simbolis tabur bunga di kaki bhikkhu sebagai penghormatan mendalam atas perjuangannya mempraktekkan serta menyebarkan Dharma.
Sementara Pandu Dinata, S.Kom., M.Pd. selaku Penasehat Panitia IWFP 2026 DIY berharap Yogyakarta bisa menjadi wujud nyata City of Tolerance. “Jadikan momen rombongan Bhikkhu Indonesia Walk For Peace 2026 ini sebagai upaya saling sinergi dan menghormati. Apalagi para tamu kita ini masih berada di Jogja pada saat teman-teman Muslim merayakan Iduladha. Disinilah makna toleransi yang sesungguhnya," ucap Pembimas Buddha Kanwil Kemenag DIY ini dalam talkshow di Pro 1 RRI Yogyakarta, Senin, 18 Mei 2026.
Ernest menjelaskan mekanisme saat penyambutan di kawasan Malioboro dijadwalkan berlangsung sekitar 17.00 WIB, dengan dukungan berbagai unsur masyarakat, termasuk Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), komunitas budaya, hingga pelajar sekolah di sekitar kawasan tersebut.Rekayasa lalu lintas akan dilakukan mulai 16.30 WIB di sejumlah titik Malioboro selama prosesi berlangsung. “Panitia sebelumnya mohon maaf bila nantinya rekayasa lalu lintas akan menghambat perjalanan Bapak dan Ibu. Kami akan berusaha maksimal agar proses tersebut lancar dan tertib,” kata Ernest.
Di penghujung perbincangan Pandu Dinata berharap masyarakat Jogja dan sekitarnya memandang keberagaman sebagai sesuatu yang indah. “Ketika beragam menjadi warna dalam hidup maka akan indah kita memandangnya,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....