Yogyakarta Kota Termaju setelah Surakarta, Hasto Bakal Perkuat Daya Saing
- 19 Apr 2026 13:22 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merilis perkembangan kota yang menjadi gambaran menyeluruh mengenai kondisi dan kinerja daya saing wilayah dalam Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) tahun 2025. Kondisi Kota Paling Maju berdasarkan IDSD 2025, Kota Yogyakarta menempati urutan kedua dengan skor 4,42 setelah Surakarta diurutan pertama dengan skor 4,43, dari data salah satu komponen SDM Surakarta lebih unggul jika dibandingkan Yogyakarta.
Merespons hal ini Wali kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo mengatakan, meski selisih angka 0,01 ini tidak begitu besar, tetapi hal tersebut akan menjadi evaluasi. Terutama dalam mengurai setiap indikator yang perlu ditingkatkan dan dipertahankan.
Hasto menilai, Yogyakarta masih kurang dalam daya investasi termasuk pertumbuhan ekonomi sehingga ia pun juga perlu belajar dari Surakarta terutama dalam memaksimalkan peluang investasi di Yogyakarta.
"Mengemas event-event yang bisa lebih semarak, mungkin kita juga harus harus lebih lagi untuk bisa belajar dengan Solo. Peluang untuk tumbuh dan investasi di Solo itu tidak banyak pembatasan, lebih leluasa itu., di Jogja kita juga harus banyak memperhitungkan, mempertahankan, banyak hal yang harus kita perhitungkan," katanya, di ruang kerjanya, Rabu, 15 April 2026.
Hasto menyebutkan, sebagai Kota Festival, Yogyakarta akan mengoptimalkan setiap event yang ada di wilayahnya agar mampu mendongkrak perekonomian dan kemajuan wilayah. Hal ini secara tidak langsung juga akan meningkatkan inovasi dan kreativitas sekaligus menaikkan indeks daya saing tidak hanya wilayah tetapi juga masyarakat.
"Saya kira harus seperti itu, event-event yang harus kita lakukan untuk menaikkan indeks daya saing menjadi kota paling maju," ujarnya.
| Baca juga: Penataan Kali Code akan Jadi Model Nasional |
Sebagai informasi, Deputi Bidang Kebijakan Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Boediastuti Ontowirjo menyampaikan, BRIN tidak menyajikan IDSD dalam bentuk pemeringkatan dari skor tertinggi hingga terendah. Tetapi ditegaskannya, tujuan IDSD untuk mengetahui kondisi riil daya saing daerah, bukan untuk memberi label peringkat.
Asti menjelaskan, secara konseptual, IDSD 2025 diturunkan dari kerangka Global Competitiveness Index (GCI) 2019 yang diterbitkan oleh World Economic Forum. Dari telaah tersebut, BRIN mengidentifikasi empat komponen utama pembentuk daya saing, yakni lingkungan pendukung, sumber daya manusia, pasar, dan ekosistem inovasi.
Keempat komponen tersebut kemudian diuraikan ke dalam 12 pilar yang masing-masing memiliki dimensi dan indikator terukur. Menurut Boediastuti, pendekatan ini memastikan bahwa daya saing tidak dilihat secara parsial, melainkan sebagai sistem yang saling terkait.
“Lingkungan pendukung dan sumber daya manusia akan memperkuat pasar, dan pada akhirnya bermuara pada penguatan ekosistem inovasi,” ucapnya.
Dari data IDSD 2025, diketahui 12 pilar dari 4 komponen tersebut, untuk Surakarta dan Yogyakarta adalah:
- Lingkungan Pendukung; pilar 1 Surakarta 4,73 dan Yogyakarta 4,75; pilar 2 Surakarta 4,08 dan Yogyakarta 4,35; pilar 3 Surakarta 5,00 dan Yogyakarta 5,00; dan pilar 4 Surakarta 4,78 sedangkan Yogyakarta 4,15.
- SDM; pilar 5 Surakarta 4,41 dan Yogyakarta 4,18; pilar 6 Surakarta 4,37 dan Yogyakarta 4,26.
- Pasar; pilar 7 Surakarta 5,00 dan Yogyakarta 4,28; pilar 8 Surakarta 3,89 dan Yogyakarta 4,75; pilar 9 Surakarta 4,18 dan Yogyakarta 4,62; pilar 10 Surakarta 4,75 dan Yogyakarta 4,64.
- Ekosistem Inovasi; pilar 11 Surakarta 3,43 dan Yogyakarta 3,36; sedangkan pilar 12 Surakarta 4,55 dan Yogyakarta 4,67.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....