Kuliner Ndeso Kembali Digemari, Telur Barendo Jadi Favorit
- 31 Agt 2026 10:12 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Tren kuliner di Yogyakarta kini mulai kembali menghadirkan suasana ndeso. Tidak hanya melalui tempat makan bernuansa pedesaan, kecenderungan tersebut juga terlihat dari semakin diminatinya hidangan sederhana yang menawarkan cita rasa rumahan dan mengingatkan pengunjung pada masakan masa lalu.
Berbagai menu tradisional yang dahulu akrab disajikan di rumah kembali mendapat tempat di tengah menjamurnya kuliner modern. Salah satu hidangan yang mencuri perhatian adalah telur barendo, olahan telur khas Minangkabau dengan bagian pinggir tipis, melebar, dan renyah menyerupai renda.
Ahli gastronomi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Dr. Minta Harsana, mengatakan masyarakat saat ini tidak hanya mencari makanan untuk mengenyangkan perut. Pengunjung juga ingin memperoleh pengalaman, suasana, dan cerita yang menyertai sebuah hidangan.
“Gastronomi itu tidak hanya berbicara mengenai makanan yang sudah jadi, tetapi juga membahas cerita di balik makanan, mulai dari bahan, cara pengolahan, penyajian, hingga nilai budaya yang menyertainya,” kata Minta kepada RRI, pada 8 Agustus 2026 lalu.
Menurut Minta, kembalinya konsep kuliner ndeso menunjukkan adanya kerinduan masyarakat terhadap makanan yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sajian tradisional dinilai mampu menghadirkan kembali ingatan tentang keluarga, kampung halaman, serta kebiasaan makan bersama.
Telur barendo menjadi salah satu menu yang digemari karena menawarkan perpaduan rasa dan tekstur yang khas. Adonan telur digoreng menggunakan minyak panas hingga mengembang dan menghasilkan bagian tepi yang garing, sementara bagian tengahnya tetap terasa lembut.
“Telur barendo itu kekuatannya ada pada tekstur. Ada bagian yang lembut, tetapi pada bagian pinggirnya muncul tekstur renyah seperti renda. Itulah yang membuatnya berbeda dengan telur dadar biasa,” ujarnya.
Meski banyak masyarakat menyebutnya berasal dari Minangkabau, telur barendo dapat diterima oleh penikmat kuliner di Yogyakarta. Bahan-bahannya yang sederhana serta rasanya yang akrab membuat makanan tersebut cocok disajikan bersama nasi hangat dan beragam lauk rumahan lainnya.
Minta menjelaskan, sebuah makanan dapat berkembang dan digemari di daerah lain karena terjadi perjumpaan budaya. Masyarakat tidak hanya menikmati cita rasanya, tetapi juga mengenal asal-usul dan teknik pengolahan yang membentuk karakter makanan tersebut.
“Makanan merupakan bagian dari identitas masyarakat. Ketika kita membicarakan telur barendo, kita tidak hanya membicarakan telur, tetapi juga membicarakan masyarakat dan budaya yang melahirkan makanan tersebut,” kata Minta.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....