Mengapa Daging Kurban Terasa Berbeda saat Diolah?
- 04 Jun 2026 07:37 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Perayaan Iduladha selalu identik dengan pembagian daging kurban kepada masyarakat. Namun, tidak sedikit warga yang merasakan adanya perbedaan rasa dan tekstur antara daging kurban dengan daging yang biasa dibeli di pasar maupun supermarket. Sebagian orang menilai daging kurban memiliki cita rasa yang lebih gurih, sementara yang lain menganggap teksturnya cenderung lebih alot ketika dimasak.
Dokter hewan Nadira Syahmifariza menjelaskan bahwa kualitas dan karakteristik daging sangat dipengaruhi oleh kondisi hewan sebelum proses penyembelihan. Hewan yang mengalami stres akibat perjalanan panjang, kelelahan, cuaca, atau penanganan yang kurang tepat berpotensi menghasilkan kualitas daging yang berbeda dibandingkan hewan yang berada dalam kondisi tenang dan sehat. “Kondisi hewan sebelum disembelih dapat memengaruhi kualitas daging, termasuk tekstur, warna, dan cita rasanya. Karena itu, penanganan hewan yang baik menjadi faktor penting untuk menjaga mutu daging kurban,” ujarnya.
Menurut Nadira, stres pada hewan dapat memengaruhi proses biologis dalam tubuh yang berdampak pada karakteristik daging setelah pemotongan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan perubahan pada tingkat keasaman daging sehingga memengaruhi kelembutan, warna, maupun rasa yang nantinya dirasakan oleh konsumen. Oleh sebab itu, penerapan prinsip kesejahteraan hewan sebelum penyembelihan menjadi aspek yang perlu diperhatikan.
Selain faktor kondisi hewan, perbedaan rasa dan tekstur juga dipengaruhi oleh tingkat kesegaran daging. Daging kurban umumnya dibagikan kepada masyarakat dalam waktu singkat setelah penyembelihan sehingga masih berada dalam kondisi sangat segar. Berbeda dengan daging yang dijual di pasar modern atau supermarket yang biasanya telah melalui proses penyimpanan, pendinginan, dan distribusi sebelum dipasarkan kepada konsumen. “Daging kurban yang masih sangat segar sering memiliki tekstur lebih padat dan aroma yang lebih khas dibandingkan daging yang telah melalui proses penyimpanan tertentu,” ucapnya.
Meski memiliki karakteristik yang berbeda, Nadira menegaskan bahwa hal tersebut bukan berarti kualitas daging kurban lebih rendah. Perbedaan tersebut merupakan kondisi alami yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi hewan sebelum disembelih hingga penanganan daging setelah pemotongan. Ia juga mengimbau masyarakat untuk menyimpan daging pada suhu yang sesuai sebelum diolah agar kualitas dan kesegarannya tetap terjaga.
Dengan memahami faktor-faktor yang memengaruhi kualitas daging, masyarakat diharapkan tidak lagi merasa heran ketika menemukan perbedaan rasa maupun tekstur pada daging kurban. Kondisi hewan, proses penyembelihan, tingkat kesegaran, serta cara penyimpanan menjadi unsur penting yang menentukan karakteristik daging yang diterima saat perayaan Iduladha.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....