Rendang, Ikon Diplomasi Kuliner Indonesia dan Daya Tarik Pariwisata
- 26 Mar 2026 11:49 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Rendang, makanan khas Minangkabau, Sumatera Barat, masih menjadi hidangan khas yang disajikan saat moment idul fitri. Masakan berbahan dasar daging sapi ini telah menjadi simbol budaya, filosofi hidup, sekaligus ikon kuliner Indonesia yang mendunia.
Rendang awalnya hanya disajikan dalam acara adat, pesta pernikahan, hingga upacara keagamaan masyarakat Minang. Proses memasaknya yang panjang dan melibatkan banyak orang merefleksikan nilai musyawarah, persatuan, serta gotong royong. Filosofi inilah yang membuat rendang tidak hanya kaya rasa, tetapi juga kaya makna.
Dikutip dari laman cobisnis.com, Sejarah mencatat, sejak abad ke-16 rendang telah diperkenalkan oleh para perantau Minang ke berbagai daerah di Nusantara, bahkan ke mancanegara. Teknik memasak lambat dengan santan dan rempah membuat rendang mampu bertahan lama selama perjalanan jauh, menjadikannya bekal ideal bagi para perantau.
Ciri khas rendang terletak pada teknik slow cooking. Daging dimasak berjam-jam hingga bumbu meresap sempurna, menghasilkan tekstur empuk dan cita rasa gurih pedas yang khas. Proses panjang ini sekaligus membuat rendang tahan lama tanpa perlu pendingin modern, menjadikannya makanan bernilai praktis sekaligus ekonomis.
Kekayaan rempah Nusantara menjadi kekuatan utama rendang. Santan, cabai, serai, lengkuas, kunyit, hingga bawang menciptakan perpaduan rasa yang kompleks. Setiap suapan menghadirkan sensasi gurih, pedas, dan aromatik yang membuat rendang selalu masuk dalam daftar kuliner favorit dunia.
Selain acara adat, rendang sering disajikan di hotel berbintang, pernikahan, serta perayaan keagamaan seperti Idul Fitri dan Idul Adha sebagai simbol kemakmuran dan kasih sayang. Di negara tetangga Malaysia, Singapura, hingga Eropa, rendang berhasil memperkuat citra Indonesia sebagai negara dengan tradisi kuliner yang kaya dan berkarakter.
Syarifah, Warga Negara Indonesia yang tinggal di Belanda, Kamis 26 Maret 2026, mengaku selalu menyuguhkan rendang disaat perayaan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha,Wanita asal Medan ini biasanya memasak rendang sebagai lauk untuk lontong sayur.
“Teman-teman saya dari Belanda sangat suka dengan masakan khas Indonesia, terutama rendang. Saat lebaran mereka pasti kerumah saya untuk mencicipi rendang buatan saya”, ujarnya.
Pengakuan dunia pun datang. CNN International pada 2011 dan 2017 menobatkan rendang sebagai “World’s 50 Most Delicious Foods” alias makanan terenak di dunia. Penghargaan ini tidak hanya mengangkat pamor rendang di kancah internasional, tetapi juga membuka peluang besar bagi kuliner Nusantara di pasar global.
Dengan segala nilai budaya, teknik masak, dan pengakuan global, rendang bukan hanya makanan, tetapi juga aset nasional. Ke depan, rendang berpotensi menjadi ikon diplomasi kuliner Indonesia, sekaligus daya tarik pariwisata yang mampu bersaing di pasar internasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....