Cita Rasa Dawet Sambel Kuliner Kulon Progo
- 27 Jan 2026 22:40 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Kulon Progo - Wilayah DIY bagian barat menyimpan kuliner unik bernama Dawet Sambel. Perpaduan dawet dan sambal pecel dengan rasa tradisional menjadi daya tarik tersendiri. Memadukan rasa manis, pedas, gurih, serta segar dalam satu sajian, menghadirkan pengalaman kuliner rakyat khas perbukitan Menoreh yang otentik.
Dawet sambel, berasal dari Desa Jatimulyo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta ini menyatukan minuman dan makanan dalam satu wadah sajian tradisional unik.
Sejarah Dawet Sambel diperkirakan bermula pada awal 1950-an, dari eksperimen sederhana penjual dawet dan pecel keliling di pasar tradisional desa. Ide mencampurkan kedua sajian muncul dari pelanggan, menghasilkan rasa unik yang kemudian digemari masyarakat sekitar hingga lintas generasi.
Dari Jatimulyo, kuliner ini menyebar di Kulon Progo, terutama kawasan pedesaan perbukitan Menoreh yang asri terpencil berbudaya kuat. Meski tidak sepopuler dawet biasa, Dawet Sambel memiliki tempat istimewa di hati warga lokal pedesaan setempat secara turun-temurun.
Keunikan Dawet Sambel terletak pada komposisi bahan dan perpaduan rasa tidak lazim dalam kuliner Indonesia tradisional rakyat klasik. Sajian ini lebih menyerupai makanan, karena menggunakan sambal sebagai pengganti pemanis utama bercita rasa pedas gurih khas lokal.
Cendolnya terbuat dari tepung ganyong, menghasilkan tekstur kenyal dengan karakter khas tradisional desa Jatimulyo Kulon Progo asli. Kuah santan dicampur air nira atau air kelapa, menambah rasa gurih alami segar ringan seimbang lembut beraroma khas.
Sambal kelapa atau kacang menghadirkan sensasi pedas gurih, berpadu tauge, tahu, bawang goreng menciptakan rasa rakyat tradisional yang lezat dan otentik. Penyajiannya menggunakan mangkuk kecil, dinikmati dengan sendok karena teksturnya padat menyerupai makanan hangat ringan praktis dan cukup mengenyangkan.
Selain rasa, Dawet Sambel memuat nilai budaya tentang harmoni, toleransi, dan kebersamaan sosial masyarakat desa Kulon Progo setempat. Perpaduan rasa melambangkan keberagaman yang menyatu tanpa saling menonjolkan, mencerminkan kehidupan bersama damai sederhana rukun berimbang beretika lokal.
Sejak 2019, Dawet Sambel diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh pemerintah pusat melalui kementerian pendidikan kebudayaan nasional. Pengakuan ini memperkuat upaya pelestarian kuliner rakyat agar bertahan menghadapi arus modernisasi budaya populer global cepat berubah dinamis.
“Saya meneruskan resep kakak ipar dan memproduksi Dawet Sambel di rumah,” kata Nyi Ponirah dari Jatimulyo Girimulyo Kulon. “Berjualan hanya Rabu dan Sabtu di Pasar Cublak sudah saya jalani puluhan tahun."
Diungkapkan Ponirah rasanya memang tidak biasa, tetapi banyak orang datang dari berbagai daerah,untuk mencoba keunikan cita rasa Dawet Sambel. “Bahkan pengunjung luar pulau tertarik mencicipi, karena cerita dan keotentikannya,” ujarnya.
Pelestarian Dawet Sambel diperkuat melalui pasar tradisional, kegiatan budaya, serta publikasi media lokal nasional digital oleh komunitas pelaku. Sementara upaya kolektif pemerintah, komunitas, dan media diharapkan menjaga kuliner ini tetap lestari berkelanjutan untuk generasi muda mendatang Indonesia. (Gilang Kinantyo Rahmat)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....