Kenapa Sifat Makan Berlebihan Sulit Dihentikan? Ini Penyebab BED Menurut Dokter

  • 30 Sep 2026 21:02 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID Yogyakarta - Banyak orang menganggap Binge Eating Disorder (BED) terjadi semata-mata karena seseorang tidak mampu mengontrol nafsu makan atau kurang disiplin. Padahal, anggapan tersebut keliru.

Melalui kanal YouTube-nya, dr Saddam Ismail meluruskan bahwa BED merupakan hasil interaksi kompleks dari berbagai faktor pemicu. Kondisi ini sama sekali tidak berkaitan dengan lemahnya karakter atau niat seseorang.

Berikut adalah empat faktor utama yang dapat memicu terjadinya Binge Eating Disorder:

  1. Faktor Biologis

    Perubahan kimia di otak serta kerentanan genetik berperan besar membuat seseorang lebih rentan mengalami BED. Karena bekerja di luar kesadaran, kondisi biologis ini tidak bisa dihentikan hanya dengan mengandalkan tekad atau niat yang kuat.

  2. Kondisi Psikologis

    Faktor psikologis kerap menjadi pemicu paling dominan, terutama pada kelompok remaja. Depresi, kecemasan, stres berkepanjangan, hingga trauma masa lalu seperti pernah menjadi korban bullying terkait bentuk tubuh dapat mendorong seseorang menjadikan makanan sebagai pelarian untuk mengatasi emosi negatif.

  3. Kebiasaan Diet yang Terlalu Ketat

    Pembatasan asupan makanan secara ekstrem justru bisa berbalik memicu BED. Tubuh akan merespons rasa lapar yang dipaksakan tersebut dengan dorongan makan berlebihan secara tiba-tiba, hingga menciptakan siklus berulang yang sulit diputus tanpa bantuan ahli.

  4. Tekanan Lingkungan Sosial dan Budaya

    Standar kecantikan yang tidak realistis, tekanan soal penampilan tubuh, serta pola makan tidak sehat di lingkungan keluarga turut mendukung berkembangnya gangguan ini. Hal ini rentan berdampak pada remaja yang sedang dalam masa pencarian identitas diri.

Saddam menekankan bahwa memahami akar penyebab BED sangat penting agar penanganannya tepat sasaran, bukan sekadar mengatasi gejala di permukaan. Tanpa menangani faktor pemicunya, episode makan berlebihan akan terus berulang meski penderita sudah berusaha sekeras mungkin untuk berhenti.

Oleh karena itu, penanganan BED membutuhkan pendekatan menyeluruh dari tenaga profesional, seperti psikiater atau psikolog. Mencari bantuan ahli bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah terpenting untuk memulihkan kesehatan mental dan fisik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....