Dinkes Yogyakarta Perkuat Edukasi Pengasuhan bagi Orang Tua Balita yang Bekerja
- 30 Sep 2026 11:25 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Usia 0-5 tahun merupakan periode emas (golden age) tumbuh kembang anak. Pada periode tersebut pola pengasuhan orang tua berperan besar dalam membentuk pertumbuhan dan perkembangan anak baik secara fisik, mental dan psikologis. Keberhasilan pengasuhan pada periode golden age tersebut sangat dipengaruhi oleh pemahaman, pengetahuan, keterampilan dan sikap orang tua dalam mengasuh anak.
Memperhatikan pentingnya pola tersebut, Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta memperkuat edukasi kepada orang tua yang memiliki anak berusia dibawah 25 bulan (0-2 tahun)dengan Kelas Orang Tua Balita. Kelas Orang Tua Balita merupakan program edukasi kelompok bagi orang tua untuk belajar dan berdiskusi bersama dalam mengasuh anak dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak.
Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Iswari Paramita mengatakan, perkembangan saat ini mendorong sebagian perempuan tidak hanya tinggal dan mengurus rumah, tetapi juga sibuk dengan pekerjaan. Sehingga lanjut Iswari, banyak ibu balita yang tidak bisa secara langsung mengikuti program yang dilaksanakan di Puskesmas.
"Kita mencoba membuat kelas orang tua balita dengan sasaran orang tua balita yang bekerja di Pemerintah Kota Yogyakarta," katanya, Selasa, 29 September 2026.
Iswari mengungkapkan, pada tahap awal pelaksanaan Kelas Orang Tua Balita yang digelar pada bulan September 2026 ini, dilaksanakan sebanyak dua kali. Pertama menyasar orang tua balita di Dinas Kesehatan dan Puskesmas, khususnya pegawai non-tenaga kesehatan, dan kegiatan berikutnya menyasar orang tua balita dari perangkat daerah di lingkungan Pemkot Yogyakarta.
Pada kegiatan di lingkungan Pemkot Yogyakarta, masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD) diundang untuk mengirimkan satu orang pegawai yang memiliki balita. Dinas Kesehatan berharap ke depan sasaran kegiatan dapat diperluas.
"Orang tua berperan besar dalam membentuk pertumbuhan dan perkembangan anak, baik secara fisik, mental maupun psikologis. Oleh karenanya, kegiatan kelas Ibu balita tidak hanya menyasar di wilayah tetapi kita juga berikan pemahaman untuk orang tua yang bekerja," ucapnya.
Dalam kelas tersebut, materi yang diberikan tidak sepenuhnya sama dengan kurikulum kelas ibu balita Kementerian Kesehatan. Kegiatan di lingkungan Pemkot lebih diarahkan sebagai penguatan pengetahuan orang tua mengenai kesehatan, gizi, serta tumbuh kembang anak.
Iswari menekankan, pemenuhan gizi pada anak tidak hanya sebatas anak kenyang, tetapi orang tua juga harus memastikan kualitas makanan yang dikonsumsi dengan memperhatikan komposisinya. Salah satunya dengan memberikan sumber protein hewani.
"Yang paling gampang adalah memberikan protein hewani sebagai tambahan bahan makanan, minimal dua porsi setiap harinya untuk mendapatkan pertumbuhan yang optimal," ujarnya.
Selain aspek gizi, orang tua juga diminta aktif memantau perkembangan anak secara berkala menggunakan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Jika ditemukan adanya penyimpangan perkembangan, orang tua diharapkan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Iswari menyebutkan, pada usia sekitar enam hingga delapan bulan anak mulai diharapkan mampu mengucapkan satu kata atau vokal sederhana. Stimulasi dan interaksi langsung dari orang tua sangat dibutuhkan untuk mendukung perkembangan tersebut.
“Penggunaan gawai secara berlebihan juga perlu dihindari. Orang tua diharapkan lebih banyak berinteraksi dan memberikan stimulasi secara langsung kepada anak,” katanya, menambahkan.
Kepala Puskesmas Mantrijeron, drg. Eny Purdiyanti mengatakan, kelas ibu dan balita di wilayah kerja Puskesmas Mantrijeron sepanjang 2026 telah dilaksanakan sebanyak tiga kali, yakni pada Februari, Mei dan Agustus. Kegiatan tersebut dilaksanakan di 16 lokasi dengan materi meliputi kesehatan umum balita, imunisasi, perkembangan anak, pemantauan pertumbuhan serta PMBA.
"Harapannya, dengan dilaksanakannya kelas balita dengan sasaran orang tua balita, orang tua dapat memahami isi Buku KIA sebagai pedoman untuk mengasuh anak agar terbebas dari stunting," ucapnya, menjelaskan.
Eny menjelaskan, pelaksanaan kegiatan kelas ibu dan balita di Puskesmas mendapat sambutan baik dari kader maupun orang tua balita. Karena itu, diharapkan kelas tersebut dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....