Pasar Prawirotaman Tingkatkan Pengawasan Bahan Pangan Bebas Zat Berbahaya
- 30 Jul 2026 10:18 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Komitmen Pasar Prawirotaman dalam menjaga keamanan dan kualitas bahan pangan tidak perlu diragukan lagi. Melalui kerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Dinas Pertanian, pihak pengelola dan paguyuban pasar turun langsung memastikan setiap dagangan bebas dari zat berbahaya.
Ketua Paguyuban Pasar Prawirotaman Untung Suparno mengatakan kerja sama dengan BPOM diawali dengan bimbingan teknis (bimtek) dan sertifikasi untuk para petugas pasar serta pengurus paguyuban. Berbekal pelatihan tersebut, pengurus pasar kini mampu melakukan pengawasan serta pengujian mandiri di lapangan.
"Awalnya kita dibimbing dan mendapat sertifikat. Setelah itu, kita turun ke lapangan untuk mengecek makanan yang berpotensi mengandung bahan berbahaya," katanya Rabu, 30 Juli 2026.
Pada bulan pertama masa pengawasan, ditemukan sekitar 15 persen bahan pangan yang masih mengandung zat berbahaya, seperti pada sampel teri nasi. Penambahan formalin tersebut diduga dilakukan sejak dari daerah asal pengiriman untuk mencegah pembusukan akibat minimnya pengeringan sinar matahari.
Mendapati temuan tersebut, petugas bergerak secara humanis dengan memberikan sosialisasi dan edukasi langsung kepada pedagang agar tidak menjual produk berbahaya demi keselamatan konsumen.
Sementara itu, pedagang ikan segar di Pasar Prawirotaman Iswardi mengatakan upaya menjaga kesegaran komoditas dagangannya diawali dengan memilih ikan berkualitas terbaik sejak pertama kali tiba dari pemasok. Ikan yang dikategorikan layak jual umumnya memiliki tingkat ketahanan kesegaran hingga dua hari.
"Dari sana masuk, harus dipilih yang bagus-bagus. Diperkirakan kemampuan ikan untuk busuk itu dua hari, selebihnya tolak," katanya.
Langkah tegas juga diterapkan jika terdapat pasokan yang tidak memenuhi standar. Apabila kualitas ikan menurun pada hari berikutnya, barang tersebut langsung dikembalikan kepada distributor guna menjaga kepuasan pembeli.
Iswardi menegaskan dirinya tidak pernah menggunakan zat atau cairan perendam kimia tambahan. Selain berpotensi merusak kualitas fisik ikan, penggunaan bahan kimia dianggap memperbesar biaya operasional. Sebagai gantinya, metode pengawetan alami menggunakan es batu menjadi pilihan utama yang paling efektif.
Dengan kombinasi seleksi ketat sejak penerimaan barang dan pendinginan yang optimal menggunakan es batu, kualitas serta keamanan produk ikan segar dapat terus dipertahankan secara konsisten.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....