UGM Dorong Akademi Pencegahan Stunting Berbasis Hasil dan Berkelanjutan

  • 30 Sep 2026 10:40 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Universitas Gajah Mada (UGM) memberikan perhatian khusus dalam pelaksanaan Akademi Pencegahan Stunting yang digagas Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta. Pelatihan aparatur berbasis Outcome Based Learning (OBL) ini dinilai harus berorientasi pada ekosistem berkelanjutan dan mengacu pada indikator pembangunan jangka panjang daerah.

Direktur Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D., menekankan, bahwa peserta akademi dituntut mampu menyusun rencana aksi tematik yang mengintegrasikan seluruh elemen masyarakat, swasta, dan pemerintah. Menurutnya, rencana tersebut perlu mengacu pada RPJMD Kota Yogyakarta, target pembangunan lima tahunan dan prinsip 1.000 Hari Pertama Kehidupan.

Pemerintah, swasta, masyarakat maupun pemangku kepentingan lainnya perlu dipetakan perannya agar bergerak dalam visi yang sama. “Monitoring itu kunci. Jangan sampai nanti tiga tahun tiba-tiba kita lihat hasilnya tidak ada. Sejak awal pun kita akan mulai membuat strategi monitoring,” katanya, dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema Pengembangan Pedoman OBL Akademi Pencegahan Stunting di Ruang Yudistira Balai Kota Yogyakarta, Selasa, 29 September 2026.

Laksono mengingatkan, pendekatan OBL dapat menjadi bagian dari pengembangan Corporate University (Corpu) Pemkot Yogyakarta. Akademi Pencegahan Stunting dapat menjadi salah satu produk pembelajaran tematik yang nantinya dapat dikembangkan untuk menjawab berbagai persoalan pembangunan lainnya.

“Akademi itu produk dari Corporate University. Jadi Akademi Pencegahan Stunting ini satu produk. Nanti bisa ada akademi yang lain, misalnya Akademi Pengelolaan Sampah,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia BKPSDM Kota Yogyakarta, Wuri Widayati menjelaskan, Akademi Pencegahan Stunting menjadi pilot project penerapan OBL di lingkungan Pemkot Yogyakarta. Berbeda dengan pembelajaran konvensional, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi belajar melalui persoalan nyata dan dituntut menghasilkan perubahan.

“ASN tidak hanya belajar teori, tetapi langsung bekerja memecahkan masalah stunting melalui metodologi yang terukur,” katanya, menjelaskan.

Akademi Pencegahan Stunting dijadwalkan mulai dilaksanakan pada 13 Oktober 2026. Pada tahap piloting, program menyasar ASN jenjang pengawas yang belum mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Pengawas dan terlibat langsung dalam penanganan stunting, baik di wilayah maupun perangkat daerah terkait.

Dari sisi peserta, OBL diharapkan meningkatkan kompetensi, kemampuan kolaborasi, pemecahan masalah dan pengelolaan perubahan. Sedangkan bagi organisasi, pembelajaran ini diarahkan untuk memperkuat koordinasi lintas sektor, penggunaan data, kualitas layanan dan inovasi.

Lebih jauh, dampaknya diharapkan dirasakan langsung masyarakat melalui pencegahan kasus baru stunting dan penurunan prevalensi stunting.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....