Prevalensi Hipertensi Tinggi di Angka 31,8 Persen, OMRON Dirikan Experience Center
- 20 Agt 2026 22:27 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Tingginya angka hipertensi di DIY mendorong perlunya penanganan dan pemanfaatan alat kesehatan secara mandiri yang tepat untuk memastikan kesehatan bagi diri sendiri dan keluarga. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatatkan, prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah pada penduduk usia ≥18 tahun di DI Yogyakarta mencapai 31,8 persen, lebih tinggi dibandingkan prevalensi nasional sebesar 30,8 persen.
Angka ini diperkuat dengan data HEARTS Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta hingga Juli 2026 memperkirakan terdapat 97.362 penduduk usia 15 tahun ke atas dengan hipertensi. Dari pasien hipertensi yang telah terdaftar, 44,90 persen tidak tercatat memiliki kunjungan dalam 12 bulan terakhir, menunjukkan masih adanya tantangan dalam menjaga kesinambungan pemantauan dan pengelolaan hipertensi.
Merespon tantangan kesehatan masyarakat ini, OMRON Healthcare Indonesia memperkuat pemanfaatan OMRON Experience Center (OEC) di Yogyakarta, untuk semakin mendekatkan akses masyarakat terhadap layanan purna jual sekaligus mendukung penggunaan perangkat kesehatan untuk pemantauan tekanan darah secara tepat dan berkelanjutan. Berlokasi di Datascrip Service Center, Jalan Gajahmada 21 Kav. R-2, Pakualaman, Yogyakarta 55122, pusat layanan ini menyediakan layanan perbaikan dan kalibrasi perangkat OMRON, termasuk memperoleh informasi dan mencoba berbagai perangkat kesehatan OMRON, termasuk tensimeter digital, monitor komposisi tubuh, nebulizer, perangkat manajemen nyeri, dan termometer digital.
Direktur OMRON Healthcare Indonesia, Tomoaki Watanabe mengatakan, akses terhadap layanan yang mendukung penggunaan perangkat kesehatan secara tepat merupakan bagian penting dalam membangun kebiasaan pemantauan kesehatan yang berkelanjutan. Sejalan dengan misi global Going for ZERO, OMRON berkomitmen untuk membantu masyarakat menurunkan risiko stroke dan serangan jantung melalui pencegahan dan pemantauan kesehatan
yang lebih baik.
"Pengelolaan hipertensi membutuhkan pemantauan yang konsisten, termasuk ketika masyarakat melakukan pemeriksaan secara mandiri di rumah. Melalui OMRON Experience Center dan kerja sama dengan Datascrip di Yogyakarta, kami ingin mendekatkan akses terhadap layanan servis dan kalibrasi, sekaligus mendukung masyarakat agar dapat menggunakan perangkat kesehatan secara tepat dan optimal,” katanya di Yogyakarta, Kamis, 20 Agustus 2026.
Ketua Pokja Hipertensi PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia), Dr. Bagus Andi Pramono, Sp.JP, FIHA, mengatakan, pengendalian hipertensi perlu dilakukan secara berkesinambungan, baik melalui pemantauan di fasilitas kesehatan maupun di rumah. Menurutnya, hipertensi merupakan kondisi yang membutuhkan pengelolaan jangka panjang, karena tekanan darah dapat berubah dari waktu ke waktu.
"Hipertensi ini sering datang tanpa gejalanya, jadi benar-benar tanpa gejala. Sehingga kita bisa menyebut bahwa hipertensi ini adalah sebuah silent killer. Silent killer itu berarti memang tidak ada tanda-tandanya sama sekali," ucapnya.
Dr. Bagus menjelaskan tentang pentingnya pemeriksaan tekanan darah di rumah. Menurutnya, dengan Home Blood Pressure Monitoring (HBPM) atau mengukur tekanan dara sendiri di rumah, maka dapat diketahui tekanan darah saat rumah dalam kondisi bagus atau tinggi dan terlihat pola dan kontrolnya.
"Jadi ketika kita berhadapan dengan data kami memeriksa itu adalah pada saat data tersebut ada di depan mata kami. Jadi kami masukkan ke dalam rekam medis dan itu akan kami analisis menjadi sebuah diagnosis. Nah, ketika kami mendapatkan data-data kita yang di luar klinik. maka pasti nanti akan lebih bagus lagi tata laksana atau manajemennya," ucapnya, mengungkapkan.
| Baca juga: Bahaya Konsumsi Mie Instan Terlalu Sering |
Dalam paparannya, Dr. Bagus juga menyampaikan cara untuk mengukur tekanan darah secara mandiri, pertama duduk tenang selama 5 menit, duduk tegak bersandar di kursi, posisikan kaki menapak di lantai, dan letakkan lengan sejajar dengan jantung. Pasang manset alat pengukur di atas siku, lalu tekan tombol mulai tanpa bergerak atau berbicara hingga hasil muncul di layar.
"Ukur dua kali pagi dan malam dan kemudian catat dan rata-rata. Kemudian sebelumnya, 30 menit sebelumnya tidak boleh merokok, tidak boleh minum kopi atau aktivitas misalnya olahraga yang berat, lari-lari misalnya karena nanti cenderung akan meningkatkan tekanan darah," ucapnya, menjelaskan.
Marketing Manager OMRON Healthcare Indonesia, Fanny Himawan menyampaikan, selain menyediakan layanan servis dan kalibrasi, OEC juga memungkinkan pelanggan memperoleh informasi dan mencoba berbagai perangkat OMRON sesuai kebutuhan. Kehadiran OEC Yogyakarta merupakan bagian dari jaringan 12 OMRON Experience Center di Indonesia, yang mencakup Jakarta, Surabaya, Bandung, Palembang, Medan, Makassar, Semarang, Yogyakarta, Bali, Balikpapan, Manado, dan Padang.
"Kenapa namanya Experience? Karena di situ disediakan satu rak display, yang isinya adalah barang-barang Omron. Tujuannya adalah kalau misalnya ada customer, mereka bingung mau beli, 'Sebenarnya tensi yang mana nih, yang tipe A, B, atau C, atau apa?' Nah, mereka bisa coba datang ke situ, terus kemudian lihat barangnya, pegang barangnya, terus kemudian mencoba, dan dari situ mereka nanti bisa lebih menentukan," ujarnya.
Melalui OMRON Experience Center di Yogyakarta, OMRON terus mendukung masyarakat untuk membangun kebiasaan pemantauan tekanan darah yang lebih konsisten sekaligus memperluas akses terhadap layanan purna jual yang dapat mendukung penggunaan perangkat kesehatan secara tepat dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....