Dampak dan Bahaya Kurang Tidur pada Lansia: Apakah Berisiko?

  • 20 Agt 2026 23:39 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Seiring bertambahnya usia, banyak orang mengalami perubahan pola tidur seperti lebih sulit tidur atau sering terbangun di malam hari. Kondisi ini kerap dianggap sebagai hal yang lumrah terjadi secara alami pada usia senja tanpa disadari dampaknya.

Laman www.family.abbott/id menyebutkan lansia tetap membutuhkan waktu istirahat yang cukup sekitar tujuh hingga delapan jam setiap malamnya untuk pemulihan tubuh. Ketika kebutuhan esensial ini tidak tercukupi, sistem kekebalan tubuh akan mengalami penurunan fungsi yang drastis sehigga para lansia menjadi lebih rentan terhadap serangan berbagai penyakit infeksi ringan maupun berat.

Kurangnya waktu istirahat terbukti dapat mempercepat penurunan daya ingat, kesulitan berkonsentrasi, hingga meningkatkan risiko demensia atau pikun. Penurunan kualitas hidup secara keseluruhan akan menyulitkan dalam menjalani aktivitas harian.

Kurang istirahat juga memicu peningkatan tekanan darah serta peradangan kronis di dalam pembuluh darah tubuh manusia. Pada akhirnya akan melipatgandakan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular yang berbahaya seperti stroke dan serangan jantung mendadak.

Aspek keselamatan fisik lansia juga berada dalam ancaman besar akibat kantuk berlebihan yang diakibatkan oleh kurang tidur di malam hari. Penurunan kewaspadaan dan kelelahan fisik membuat rentan mengalami kecelakaan fatal, terutama risiko jatuh di dalam rumah.

Dari sisi psikologis, kurang tidur kronis kerap menjadi pemicu utama munculnya gangguan suasana hati seperti kecemasan berlebihan dan depresi. Lansia yang kurang tidur biasanya merasa lebih mudah tersinggung, frustrasi, dan kehilangan minat dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitar yang memperparah kondisi mental secara keseluruhan.

Penanganan masalah tidur pada lansia harus menjadi prioritas utama bagi anggota keluarga maupun perawat. Langkah bijak untuk menerapkan kebiasaan tidur yang sehat, seperti menjaga jadwal tidur yang teratur dan menciptakan suasana kamar yang nyaman. Mengurangi konsumsi kafein dan menghindari penggunaan gawai menjelang waktu tidur juga terbukti sangat efektif membantu kualitas tidur.

Jika masalah susah tidur ini terus berlanjut dan mengganggu keseharian, berkonsultasi dengan dokter spesialis geriatri adalah keputusan yang paling tepat untuk memberikan penanganan medis yang aman.Dengan perhatian dan penanganan yang tepat, kualitas tidur lansia dapat pulih sehingga mereka dapat menikmati masa tua dengan sehat dan bahagia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....