Dokter Doni Ingatkan Kebutaan Bisa Dicegah sejak Dini
- 07 Agt 2026 16:38 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman - Dokter spesialis mata dr. Widyandana MHPE, Ph.D., Sp.M., yang akrab disapa dr. Doni, mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan mata guna mencegah kebutaan sejak dini. Ajakan tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber melalui sambungan Zoom dalam program Komunitalk Pro 2 RRI Yogyakarta, Jumat 24 Juli 2026. Dalam kesempatan itu, dr. Doni menjelaskan bahwa sebagian besar kasus kebutaan sebenarnya dapat dicegah maupun diobati apabila terdeteksi lebih awal.
Menurut dr. Doni, kebutaan merupakan kondisi ketika ketajaman penglihatan kurang dari 3/60 pada mata terbaik atau lapang pandang kurang dari 10 derajat meskipun telah menggunakan kacamata. Kondisi tersebut membuat seseorang tidak mampu melihat, membaca, maupun menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal. Ia membedakan kebutaan dengan gangguan penglihatan.
Gangguan penglihatan masih memungkinkan seseorang beraktivitas meskipun penglihatannya menurun, sedangkan kebutaan menyebabkan fungsi penglihatan tidak lagi memadai untuk menjalani kehidupan sehari-hari. "Kebutaan adalah kondisi ketika penglihatan sudah sangat rendah hingga tidak lagi berfungsi untuk aktivitas sehari-hari, sedangkan gangguan penglihatan masih dapat digunakan meski kualitasnya menurun," ujarnya.
Dalam pemaparannya, dr. Doni menyebut lima penyebab kebutaan yang paling sering ditemukan di Indonesia maupun dunia, yaitu katarak, glaukoma, kelainan refraksi yang tidak terkoreksi, retinopati diabetik, serta trauma dan infeksi mata. Katarak terjadi akibat lensa mata yang keruh, sedangkan glaukoma disebabkan kerusakan saraf optik akibat tingginya tekanan bola mata. Selain itu, komplikasi diabetes yang menyerang retina, infeksi kornea, hingga kekurangan vitamin A juga menjadi faktor yang dapat menyebabkan kehilangan penglihatan apabila tidak segera ditangani.
Lebih lanjut, dr. Doni menjelaskan bahwa kebutaan terbagi menjadi dua kelompok, yakni yang masih dapat diperbaiki dan yang cenderung permanen. Katarak, kelainan refraksi, glaukoma stadium awal, retinopati diabetik yang terdeteksi dini, infeksi kornea, hingga defisiensi vitamin A umumnya masih memiliki peluang untuk diobati melalui operasi, penggunaan kacamata, obat-obatan, laser, maupun terapi lainnya. Sebaliknya, glaukoma stadium lanjut, retinitis pigmentosa, atrofi saraf optik berat, serta kebutaan akibat trauma berat umumnya tidak dapat dipulihkan sepenuhnya. "Pada kasus yang bersifat permanen, tujuan utama pengobatan adalah mencegah kerusakan bertambah parah dan dilanjutkan dengan rehabilitasi agar kualitas hidup pasien tetap terjaga," katanya.
Berbagai metode pengobatan juga telah berkembang untuk menangani penyakit mata sesuai penyebabnya. Katarak dapat diatasi melalui operasi fakoemulsifikasi dengan pemasangan lensa tanam yang hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit dan dilakukan secara rawat jalan. Kelainan refraksi dapat dikoreksi menggunakan kacamata, lensa kontak, atau prosedur LASIK. Sementara itu, glaukoma ditangani dengan obat tetes mata, terapi laser, maupun operasi trabekulektomi. Adapun retinopati diabetik memerlukan kontrol gula darah yang baik, suntikan anti-VEGF, hingga laser retina, sedangkan infeksi kornea diobati menggunakan antibiotik, antijamur, atau transplantasi kornea bila kerusakannya berat.
Dr. Doni mengingatkan bahwa kebutaan yang tidak ditangani dapat menimbulkan dampak luas, tidak hanya terhadap kesehatan, tetapi juga kehidupan sosial dan ekonomi penderitanya. Risiko jatuh dan patah tulang meningkat akibat keterbatasan penglihatan, sementara kemampuan bekerja menurun sehingga menambah beban keluarga. Dari sisi psikologis, penderita juga berisiko mengalami depresi, kehilangan rasa percaya diri, hingga isolasi sosial. Bahkan, pada anak-anak, kebutaan dapat menghambat proses pendidikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun menempatkan kebutaan sebagai salah satu penyebab disabilitas terbesar di dunia.
Untuk mencegah kebutaan, dr. Doni memperkenalkan konsep "3P Cegah Buta", yaitu Periksa Rutin, Proteksi, dan Penanganan Cepat. Ia menyarankan masyarakat berusia di atas 40 tahun menjalani pemeriksaan mata setidaknya sekali dalam setahun, sementara penderita diabetes perlu memeriksakan retina setiap enam hingga dua belas bulan. Selain itu, penggunaan kacamata pelindung dan kacamata anti-UV, menjaga kadar gula darah dan tekanan darah, serta segera memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami mata merah, nyeri, pandangan kabur mendadak, atau muncul kilatan cahaya menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mata. "Sembilan dari sepuluh kasus kebutaan sebenarnya bisa dicegah atau diobati. Jangan tunggu sampai terlambat karena mata hanya ada dua," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....