Distribusi Dokter Spesialis Jantung Masih Timpang

  • 23 Jul 2026 12:35 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Pakar Manajemen Rumah Sakit UMY, Dr. Qurratul Aini menyoroti ketimpangan distribusi dokter spesialis jantung di Indonesia. Meski saat ini, pemerintah mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis jantung.

Salah satunya dengan mengirim dokter spesialis jantung, untuk mengikuti program fellowship di luar negeri agar mempercepat peningkatan kompetensi. Namun menurut Quratul, proses tersebut sudah terlihat sangat timpang sejak awal.

”Sekitar 63,8 persen peserta didik spesialis jantung berasal dari Jawa dan Bali,” ucapnya, Kamis, 23 Juli 2026. ”Sedangkan peserta dari Indonesia timur, hanya sekitar satu persen saja.”

Selain itu, sekitar separuh pusat pendidikan dokter spesialis berbasis universitas, berada di wilayah Pulau Jawa. Maka, konsentrasi pusat pendidikan tersebut turut memengaruhi pilihan tempat kerja para dokter setelah menyelesaikan pendidikan.

”Lebih dari 60 persen dokter spesialis jantung akhirnya terkonsentrasi di DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat,” ucapnya. ”Kesenjangan inilah yang membuat masyarakat di luar Pulau Jawa, masih kesulitan mengakses layanan jantung.”

Sesuai data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, saat ini jumlah dokter spesialis jantung dan pembuluh darah (SpJP) telah meningkat, dengan kompetensi kardiologi intervensi. Dari 99 orang pada tahun 2020 menjadi 414 pada 2026.

Berdasarkan proyeksi Kemenkes pada tahun 2026, Indonesia membutuhkan 6.801 dokter SpJP, sedangkan jumlah yang tersedia baru mencapai 1.639 dokter. Dengan demikian, Indonesia masih mengalami defisit sebanyak 5.162 dokter SpJP.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....