Pentingnya Strategi Terpadu menuju 0 Kematian Dengue 2030

  • 05 Jul 2026 12:37 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Indonesia tercatat sebagai negara dengan beban dengue tertinggi di Asia Tenggara dan kedua tertinggi di dunia, serta menyumbang sekitar 17 persen dari total kematian dengue global pada 2025. Data ini diungkap oleh dr Fadjar SM Silalahi, Ketua Tim Kerja Penyakit Akibat Tular Vektor dan Zoonotik, Gigitan Hewan Berbisa dan Tanaman Beracun, Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit, Kementerian kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI).

Menanggapi tantangan tersebut, Pusat Kedokteran Tropis Universitas Gadjah Mada (PKT UGM) menyelenggarakan seminar dan workshop ASEAN Dengue Day (ADD) 2026. Seminar dan workshop tersebut mengambil tema “Menuju Nol Kematian Dengue 2030: Antara Impian atau Kenyataan?” pada Senin, 29 Juni 2026, di Auditorium FK-KMK UGM, Yogyakarta.

Tata laksana klinis menjadi salah satu komponen penting dalam strategi menekan kematian akibat dengue. Hal ini disampaikan oleh Dr. dr. Ida Safitri Laksanawati, Sp.A(K). Menurutnya, perjalanan penyakit dengue berlangsung singkat dan dinamis, sehingga diagnosis dini, pemantauan kondisi klinis, serta penanganan yang tepat menjadi krusial untuk mencegah keterlambatan penanganan.

Penguatan sistem rujukan juga menjadi bagian penting dalam menekan kematian akibat dengue. Dr. Diah Ayu Puspandari, Apt., MBA, M.Kes menyoroti bahwa sebagian pasien masih langsung datang ke rumah sakit tanpa mengakses layanan primer.

Dari aspek pembiayaan, Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, Dr.PH menekankan bahwa target nol kematian dengue tidak cukup hanya ditopang oleh kesiapan klinis dan sistem rujukan, tetapi juga membutuhkan pendanaan kesehatan yang memadai, efektif, dan efisien. “Angka kasus dan kematian tinggi ada korelasinya dengan pendanaan yang rendah,” paparnya.

Ketiga paparan tersebut menegaskan bahwa target nol kematian dengue 2030 hanya dapat dicapai melalui strategi yang saling melengkapi. Tata laksana klinis yang cepat dan tepat dan sistem rujukan yang responsif. Sementara pendanaan kesehatan yang memadai menjadi syarat agar layanan promotif, preventif, dan kuratif dapat berjalan optimal.

Rangkaian kegiatan ASEAN Dengue Day 2026 kemudian dilanjutkan dengan workshop “Teknologi Pengendalian Vektor Inovatif Berbasis Wolbachia”. Dalam sesi ini, peserta mendapatkan pembelajaran mengenai pengalaman 15 tahun implementasi Wolbachia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....