Diskoma UGM Soroti Paradoks Gaya Hidup Sehat Generasi Muda Era Media Sosial
- 13 Jun 2026 13:45 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Derasnya arus informasi kesehatan di media sosial belakangan ini justru memicu paradoks di kalangan generasi muda. Di satu sisi, ruang digital dibanjiri konten edukasi mengenai kebiasaan hidup sehat pascapandemi, namun di sisi lain, anak muda justru terjebak dalam tuntutan produktivitas tinggi yang melahirkan budaya kerja berlebih (hustle culture), kurang istirahat, serta pola konsumsi instan.
Fenomena tersebut mengemuka dalam Diskusi Komunikasi Magister Universitas Gadjah Mada (Diskoma UGM) edisi ke-30 yang berlangsung secara luring di Auditorium Mandiri Lantai 4 FISIPOL UGM, Sabtu, 6 Juni 2026. Diskusi strategis bertajuk “Healthy or Trendy? Pengaruh Komunikasi Kesehatan terhadap Lifestyle Generasi Muda” tersebut menghadirkan perspektif lintas disiplin dari kalangan akademisi dan praktisi kesehatan.
Dosen senior Departemen Ilmu Komunikasi UGM, Prof. Ana Nadhya Abrar, yang akrab disapa Bang Abrar, membuka paparannya dengan temuan yang mengkhawatirkan, bahwa Generasi Z berpotensi menjadi generasi pertama yang mengalami penurunan kapasitas kognitif. Ia menautkan fenomena ini dengan brain rot akibat tingginya durasi screen time.
Pola adiktif tersebut, lanjut Abrar, dipicu oleh pelepasan hormon dopamin saat berinteraksi di media sosial, lalu diperkuat oleh cara kerja algoritma, polarisasi audiens, hingga melemahnya pemikiran kritis. Kondisi inilah yang membuat media sosial seolah mampu mengontrol dan mengawasi penggunanya.
Berdasarkan riset yang ia lakukan terhadap mahasiswa, Bang Abrar menemukan pengaruh media sosial yang tinggi, khususnya pada perubahan perilaku yang tidak substansif. Menurutnya, di sinilah kajian komunikasi berperan, yakni mengkritisi dangkalnya perubahan perilaku dan rendahnya literasi media, baginya kunci utama menghadapi situasi ini adalah kesadaran generasi muda atas otoritas dirinya sendiri.
“Yang paling penting saat ini adalah Generasi Z memiliki otoritas diri. Karena media sosial sekarang mampu mengontrol dan mengawasi penggunanya, Generasi Z memerlukan kesadaran atas otoritas akan dirinya,” katanya.
Hal senada diungkapkan, dr. Rianti Maharani, M.Si., FINEM, AIFO-K, praktisi kesehatan sekaligus influencer kesehatan. Ia memaparkan sisi praktis komunikasi kesehatan.
Rianti menegaskan, bahwa tantangan hari ini bukanlah kekurangan informasi, melainkan kelebihan informasi, dengan hoaks yang menyebar sangat cepat di media sosial. Menurutnya, media sosial membentuk perilaku Generasi Z melalui rangkaian proses, mulai dari algoritma yang menentukan gaya hidup, perubahan persepsi, perubahan keyakinan, hingga perubahan perilaku.
dr. Rianti turut membagikan enam rantai perubahan gaya hidup, dari pengetahuan, sikap, niat, tindakan, kebiasaan, hingga gaya hidup yang menurutnya perlu diinternalisasi setidaknya selama 90 hari. Ia juga menekankan, kredibilitas menjadi modal utama seorang komunikator kesehatan.
“Cara untuk meyakinkan orang lain adalah dengan meyakinkan diri sendiri terlebih dahulu, oleh sebab itu saya menambah kompetensi yaitu dengan melanjutakan pendidikan hingga studi doctoral di FK KMK UGM untuk memberikan informasi kesehatan kepada orang lain,” ucapnya.
Rianti pun menutup paparannya dengan pesan ringkas, “Small habits, big impact. Perubahan kecil yang berkelanjutan.”
Sementara itu, Ketua Diskoma, Debbie Pradhita menegaskan, bahwa Diskusi Komunikasi Magister Universitas Gadjah Mada (Diskoma UGM) berbeda dari edisi sebelumnya yang berlangsung daring, kegiatan kali ini diselenggarakan secara luring. Pada edisi ini dirancang khusus agar pengetahuan kesehatan dapat dipahami masyarakat secara lebih akurat dan dekat dengan keseharian.
"Saya berharap seluruh rangkaian acara mampu membumikan gagasan-gagasan akademis sehingga dapat diterima oleh masyarakat luas," ujarnya.
Mengusung payung besar “Voice of Health: Speak Healthy, Spread Impact”, edisi ke-30 ini terdiri atas tiga rangkaian acara: pameran poster ilmiah Communication Highlight & Poster Exhibition hasil kolaborasi dengan Korps Mahasiswa Komunikasi (KOMAKO) S1 Ilmu Komunikasi UGM, seminar komunikasi kesehatan, dan pelatihan penulisan artikel populer.
Antusiasme peserta tampak dari derasnya pertanyaan dalam sesi diskusi yang menyentuh beragam isu, mulai dari fenomena slacktivism, strategi dopamin detoks, pentingnya kualitas tidur, self-diagnosis, hingga motivasi yang berbasis rasa takut atau penghargaan.
Seminar yang dihadiri lebih dari 85 peserta dari beragam institusi ini, di antaranya Dinas Kesehatan Kota, Puskesmas Depok 3, Health Promoting University, FK-KMK UGM, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) UGM, sejumlah SMA dan SMK, serta mahasiswa dan alumni UGM, menegaskan kebutuhan akan ruang diskusi yang mempertemukan akademisi, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
Hingga 2026, Diskoma telah menyelenggarakan 30 edisi diskusi dengan beragam tema strategis di bidang komunikasi. Adapun rangkaian acara dilanjutkan dengan pelatihan penulisan artikel populer bersama Moch. Taufik Hidayatullah, M.A., dosen Universitas Multimedia Nusantara (UMN), alumni Magister Ilmu Komunikasi UGM, sekaligus mahasiswa doktoral Ilmu Komunikasi UGM. Pelatihan ini diikuti oleh 24 peserta yang terdiri atas kontributor Communication Highlight & Poster Exhibition, serta peserta umum.
Kegiatan ini dirancang untuk mendukung tujuan besar edisi ke-30, yaitu membumikan gagasan akademik agar lebih mudah dipahami masyarakat luas melalui tulisan populer. Melalui Diskoma edisi ke-30 ini, para narasumber sepakat bahwa di tengah membanjirnya informasi kesehatan, yang paling dibutuhkan generasi muda bukanlah lebih banyak konten, melainkan kesadaran kritis dan otoritas atas diri sendiri untuk memilah mana yang benar-benar sehat dan mana yang sekadar tren.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....