Diet Karnivora Populer, Ahli Ingatkan Risiko Nutrisinya

  • 24 Jun 2026 07:48 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Diet karnivora belakangan menjadi salah satu tren pola makan yang banyak diperbincangkan di media sosial. Pola makan ini menitikberatkan konsumsi makanan hewani seperti daging, ikan, telur, dan produk hewani lainnya, sementara sayur, buah, biji-bijian, serta kacang-kacangan tidak masuk dalam menu harian. Meski diklaim mampu membantu menurunkan berat badan, para ahli mengingatkan masyarakat untuk memahami manfaat dan risikonya sebelum mengikuti pola makan tersebut.

Tren diet karnivora menarik perhatian karena dianggap sederhana dan mudah diterapkan. Banyak pelaku diet ini mengaku mengalami penurunan berat badan dalam waktu relatif singkat serta merasa kenyang lebih lama berkat tingginya asupan protein. Namun, sejumlah pakar kesehatan menilai bahwa pembatasan kelompok makanan tertentu perlu dipertimbangkan secara matang agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan dalam jangka panjang.

Profesor Epidemiologi dan Nutrisi Harvard T.H. Chan School of Public Health, Dr. Walter Willett, menjelaskan bahwa pola makan sehat idealnya mengandung beragam jenis makanan, termasuk buah dan sayuran. Menurutnya, kelompok makanan tersebut merupakan sumber vitamin, mineral, serat, dan antioksidan yang memiliki peran penting dalam menjaga fungsi tubuh dan mendukung kesehatan secara menyeluruh. “Tubuh membutuhkan beragam nutrisi yang diperoleh dari berbagai jenis makanan, termasuk buah dan sayuran yang kaya vitamin, mineral, serta antioksidan,” ujarnya.

Salah satu perhatian utama terhadap diet karnivora adalah rendahnya asupan serat. Padahal, serat berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan, membantu pergerakan usus, serta mendukung keseimbangan bakteri baik di saluran cerna. Ketika asupan serat berkurang drastis, sebagian orang berisiko mengalami gangguan pencernaan seperti sembelit dan ketidaknyamanan pada sistem pencernaan.

Selain itu, buah dan sayuran juga menjadi sumber berbagai vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh setiap hari. Meskipun sebagian nutrisi dapat diperoleh dari makanan hewani, konsumsi makanan yang lebih beragam dinilai lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan gizi secara optimal. “Pola makan yang terlalu membatasi kelompok makanan tertentu berpotensi menyebabkan kekurangan beberapa zat gizi penting apabila tidak direncanakan dengan baik,” ucapnya.

Meski sejumlah pelaku diet karnivora melaporkan manfaat berupa penurunan berat badan dan rasa kenyang yang lebih lama, para ahli menegaskan bahwa penelitian mengenai dampak jangka panjang pola makan ini masih terus berkembang. Karena itu, masyarakat disarankan untuk tidak sekadar mengikuti tren yang sedang populer, melainkan mempertimbangkan kebutuhan nutrisi dan kondisi kesehatan masing-masing. Konsultasi dengan ahli gizi atau tenaga kesehatan sebelum menjalani diet tertentu menjadi langkah penting agar pola makan yang dipilih tetap aman, seimbang, dan sesuai kebutuhan tubuh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....