Hipertensi Ancaman Sunyi, Waspada sejak Usia Muda
- 05 Apr 2026 20:14 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman - Program siaran “Komunitalks” PRO 2 Yogyakarta 102.5 FM kembali menghadirkan edukasi kesehatan bagi masyarakat dengan tema hipertensi, Jumat 3 April 2026 pukul 20.30–21.00 WIB. Siaran ini dapat diakses melalui radio, aplikasi RRI Digital, serta kanal YouTube RRI Jogja Official sebagai bagian dari komitmen menyebarkan informasi kesehatan yang akurat dan mudah dipahami.
Diungkapkan dr. Y. Nugrahaningtyas Utami, M.Kes. dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Respati Yogyakarta, bahwa hipertensi merupakan kondisi yang sudah sangat dikenal masyarakat, namun sering kali masih diabaikan. Ia menekankan pentingnya pemahaman sejak dini agar masyarakat tidak terlambat menyadari risiko penyakit ini.
Hipertensi, menurut Kementerian Kesehatan, adalah kondisi tekanan darah tinggi dengan angka sistolik mencapai atau melebihi 140 mmHg dan/atau diastolik 90 mmHg. Penyakit ini dikenal sebagai “silent killer” karena kerap tidak menimbulkan gejala hingga terjadi komplikasi serius seperti stroke atau penyakit jantung.
| Baca juga: Waspadai Hipertensi Anak, ini Pemicunya |
“Hipertensi sering tidak bergejala, sehingga banyak orang baru menyadarinya saat sudah terjadi komplikasi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pengendalian hipertensi dapat dilakukan melalui pola hidup sehat dan kepatuhan terhadap pengobatan yang dikenal dengan konsep Periksa, Atasi, Tetap diet, Upayakan, Hindari (PATUH).
Konsep PATUH mencakup pemeriksaan kesehatan rutin, pengobatan yang tepat, diet seimbang, aktivitas fisik, serta menghindari rokok dan alkohol. Langkah-langkah ini dinilai efektif untuk menjaga tekanan darah tetap stabil dan mencegah risiko komplikasi jangka panjang.
Hipertensi dapat mulai terjadi sejak usia 18 tahun ke atas dan risikonya meningkat seiring bertambahnya usia. Namun, gaya hidup modern seperti konsumsi makanan tinggi garam, kurang aktivitas fisik, hingga kebiasaan merokok mempercepat munculnya penyakit ini pada usia produktif.
“Banyak kasus tekanan darah tidak turun karena pola hidup belum optimal dan pasien tidak patuh minum obat,” katanya. Ia juga mengingatkan bahwa beberapa obat seperti pereda nyeri atau obat flu tertentu dapat memengaruhi tekanan darah.
Selain itu, kondisi hipertensi resisten juga menjadi perhatian, yakni ketika tekanan darah tetap tinggi meski sudah mengonsumsi beberapa jenis obat. Kondisi ini bisa dipicu oleh penyakit lain seperti gangguan ginjal, tiroid, atau gangguan tidur seperti apnea.
Masyarakat juga diimbau untuk mengenali gejala awal hipertensi, seperti sakit kepala, nyeri leher, gangguan penglihatan, telinga berdenging, hingga jantung berdebar. Meski demikian, diagnosis tidak bisa dilakukan hanya dengan satu kali pengukuran tekanan darah. “Diagnosis hipertensi harus melalui beberapa kali pengukuran di waktu yang berbeda agar hasilnya akurat,” ucapnya. Ia menegaskan bahwa tekanan darah dapat berubah-ubah tergantung kondisi tubuh, sehingga pemeriksaan berulang sangat diperlukan.
Dalam hal pengobatan, pasien hipertensi diingatkan untuk disiplin mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter. Obat harus diminum secara rutin pada waktu yang sama setiap hari dan tidak boleh dihentikan tanpa konsultasi medis.
Dengan edukasi yang berkelanjutan melalui program siaran seperti ini, diharapkan masyarakat semakin sadar pentingnya deteksi dini dan pengendalian hipertensi. Upaya preventif dan kepatuhan pengobatan menjadi kunci utama dalam menekan angka komplikasi akibat penyakit ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....