Dari Insomnia, Methi Temukan Hidup Lewat Lari Pagi
- 18 Feb 2026 07:47 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman - Kebiasaan berlari mengubah hidup seorang ibu rumah tangga bernama Methi. Aktivitas yang awalnya dilakukan untuk mengatasi insomnia, kini berkembang menjadi gaya hidup sehat yang memberi dampak besar bagi kesehatan fisik dan mentalnya. Dari yang semula sulit tidur hingga menjelang subuh, Methi kini rutin berlari empat hingga lima kali dalam sepekan dengan jarak tempuh yang konsisten.
Perjalanan Methi dimulai dari keluhan insomnia yang ia alami selama bertahun-tahun. Ia kerap terjaga hingga larut malam, bahkan baru bisa tidur saat azan subuh berkumandang. Suaminya yang rutin bersepeda kemudian menyarankan agar ia mencoba berolahraga. “Kamu tuh kurang capek. Coba deh olahraga, lari atau workout aja di rumah,” katanya. Saran itu pun diikuti, meski awalnya ia mencoba olahraga ringan di rumah dengan bantuan video daring.
Namun, olahraga di rumah terasa kurang efektif karena distraksi dari aktivitas mengurus dua anaknya yang masih kecil. Methi kemudian memutuskan untuk mencoba berlari di lapangan dekat rumah. Ia mengaku terkejut dengan efek yang dirasakan setelah berlari selama 45 menit hingga satu jam. “Ternyata capek, dan malamnya benar-benar bisa tidur lebih cepat. Aku terharu bisa tidur sebelum tengah malam,” ujarnya. Sejak saat itu, berlari menjadi solusi alami bagi masalah tidurnya.
Saat ditemui di rumahnya yang beralamat di daerah Jalan Kaliurang KM.10, Sleman, pada Jumat, 13 Februari 2026, Methi mengatakan bahwa berlari kini telah menjadi bagian penting dalam rutinitas hariannya. Ia biasanya berlari sejauh 5 hingga 7 kilometer pada hari biasa, dan meningkatkan jarak menjadi 10 hingga 12 kilometer pada akhir pekan. Untuk menyeimbangkan perannya sebagai ibu, ia memilih berlari di pagi hari sebelum memulai aktivitas rumah tangga. Menurutnya, fleksibilitas waktu menjadi kunci agar olahraga tetap bisa dilakukan tanpa mengganggu tanggung jawab keluarga.
Manfaat berlari tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga mental. Ia merasakan tubuh yang lebih bugar, daya tahan yang meningkat, serta berkurangnya risiko sakit musiman seperti flu dan batuk. Selain itu, kebiasaan begadang dan overthinking perlahan menghilang. “Kalau sudah rutin lari, rasanya nggak ada begadang lagi dan pikiran jadi lebih tenang,” ucapnya. Berat badan pun lebih terkontrol karena ia menjadi lebih sadar menjaga pola makan.
Pengalaman berlari juga membawanya mengikuti berbagai event, termasuk Maybank Marathon di Bali dan ajang trail run Siksorogo Lawu Ultra. Ia mengaku pengalaman berlari di gunung menjadi momen yang paling berkesan. Perbedaan medan, udara, dan suasana memberikan sensasi yang menurutnya “magical” dan memperkaya perjalanan olahraganya. Meski begitu, ia masih memiliki impian untuk menyelesaikan full marathon, kemungkinan di Singapura, meski saat ini ia memilih menikmati proses tanpa tekanan.
Methi berharap generasi muda, khususnya Gen Z, menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup sejak dini. Ia menilai olahraga adalah investasi kesehatan jangka panjang. “Lari itu cuma butuh sepatu dan niat. Coba saja 10 menit dulu, kalau nyaman lanjut, yang penting mulai,” ujarnya. Baginya, konsistensi kecil yang dilakukan setiap hari dapat membawa perubahan besar bagi kesehatan dan kualitas hidup di masa depan. (Hariansyah)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....