UGM Kembangkan Teknologi RAS Akuaponik pada Budidaya Lele dan Nila di Kulon Progo

  • 17 Sep 2026 08:36 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Universitas Gadjah Mada (UGM) mengimplementasikan teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS) yang dikombinasikan dengan sistem akuaponik untuk mendukung budidaya ikan dan sayuran di Kelompok Wanita Tani (KWT) Amrih Rahayu, Kalurahan Jatisarono, Kapanewon Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo.

Penerapan teknologi ini mencakup dua unit instalasi RAS akuaponik dengan total empat kolam budidaya. Kolam unit pertama dikhususkan untuk budidaya lele dengan kapasitas tebar sekitar 800 ekor, sementara unit kedua digunakan untuk budidaya ikan nila dengan kapasitas 600 ekor. Selain komoditas ikan lele dan nila, sistem ini turut dipadukan dengan penanaman sayuran seperti pakcoy, selada air, dan bayam, sehingga masyarakat dapat memanen ikan sekaligus sayuran dalam satu instalasi.

Ketua Tim UGM, Dr. drh. Artina Prastiwi, M.Sc., menjelaskan bahwa konsep yang diusung tidak sekadar berorientasi pada produksi ikan, melainkan juga memanfaatkan limbah air budidaya untuk menyokong pertumbuhan sayuran hijau secara simultan. Aspek teknis perikanan dan pengelolaan sistem RAS ini turut diperkuat oleh anggota tim dari Fakultas Perikanan UGM, Dr. Desy Putri Handayani, M.Sc.

Universitas Gadjah Mada (UGM) mengimplementasikan teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS) yang dikombinasikan dengan sistem akuaponik untuk mendukung budidaya ikan dan sayuran di Kelompok Wanita Tani (KWT) Amrih Rahayu, Kalurahan Jatisarono, Kapanewon Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo.(Foto:Dokumentasi Artina)

Menurut Desy, pemanfaatan sistem RAS membuat air kolam tidak langsung dibuang, melainkan disirkulasikan melalui sistem filtrasi khusus untuk menyaring kotoran dan menjaga kualitas air sebelum dialirkan kembali ke kolam.

"Dengan sistem sirkulasi tersebut, penggunaan air menjadi lebih hemat karena air tidak perlu sering diganti dan dapat digunakan hingga masa panen, dengan tetap dilakukan pemantauan dan penambahan air sesuai kebutuhan akibat penguapan maupun kondisi budidaya," kata Desy kepada RRI, Selasa 15 September 2026.

Sementara itu, anggota tim pengabdian dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, drh. Yudhi Ratna Nugraheni, M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa program ini dirancang agar masyarakat tidak hanya menerima bantuan berupa prototipe alat, melainkan juga memiliki kapasitas mandiri untuk mengoperasikan serta mengembangkan sistem tersebut.

"Kami ingin mengembangkan model budidaya yang tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga efisien dalam penggunaan sumber daya. RAS akuaponik-budikdamber ini kami kembangkan sebagai bagian dari konsep circular farming yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi dan potensi masyarakat di Jatisarono," ujar Yudhi.

Melalui pendekatan circular farming yang mengoptimalkan sumber daya secara berkelanjutan ini, pengembangan RAS akuaponik diharapkan mampu menjadi langkah nyata dalam mewujudkan Desa Mandiri Pangan Berkelanjutan sekaligus membuka peluang usaha pangan berbasis masyarakat. UGM terus berkomitmen mendorong hilirisasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengintegrasikan aspek akademik, inovasi, serta pemberdayaan demi memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....