Prof Amin Abdullah: Pendidikan Pancasila Perlu Transformasi di Era AI

  • 29 Jul 2026 15:27 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Amin Abdullah menegaskan Pendidikan Pancasila perlu bertransformasi di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan kompleksnya tantangan kebangsaan. Menurutnya, Pancasila tidak lagi cukup diajarkan sebagai hafalan, tetapi harus menjadi etika yang membimbing pengembangan ilmu pengetahuan.

Hal tersebut disampaikan Amin dalam Simposium Nasional Pendidikan Pancasila yang diselenggarakan CIINTRA UIN Sunan Kalijaga bersama BPIP pada Senin, 27 Juli 2026.

Amin menilai pendekatan Pendidikan Pancasila selama ini masih didominasi perspektif legalistik dan indoktrinatif. Akibatnya, Pancasila kerap dipahami sebatas slogan dan kurang mendorong lahirnya nalar kritis mahasiswa.

"Trauma sejarah pembelajaran Pancasila yang bersifat satu arah membuat Pancasila sering dipahami sebagai slogan, bukan sebagai cara berpikir," ujarnya.

Ia menawarkan paradigma baru dengan menempatkan Pancasila sebagai living philosophy atau filsafat yang hidup dalam tindakan sehari-hari. Pancasila harus menjadi fondasi etik bagi aparatur negara, akademisi, hingga masyarakat dalam menghadapi persoalan kebangsaan.

Bahkan, Pancasila perlu diposisikan sebagai epistemological tool atau alat berpikir dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Nilai-nilai Pancasila dapat digunakan untuk mencari solusi atas berbagai persoalan, termasuk dampak algoritma media sosial yang memicu polarisasi.

Ia juga menekankan pentingnya reformasi metode pembelajaran Pendidikan Pancasila. Model ceramah dan hafalan dinilai tidak lagi memadai untuk menghadapi kompleksitas era digital. Sebagai alternatif, ia menawarkan pendekatan berbasis fenomena, studi kasus, living lab, hingga dialog kritis.

Selain itu, Amin mendorong agar mata kuliah Pancasila diintegrasikan dengan berbagai disiplin ilmu, mulai dari kedokteran, teknik informatika, ekonomi, hingga studi keislaman. Mahasiswa diharapkan mampu mengimplementasikan nilai Pancasila sesuai bidang profesinya kelak.

Di akhir paparannya, Amin mengaitkan paradigma Integrasi-Interkoneksi UIN Sunan Kalijaga dengan pendekatan Critical Discourse Analysis (CDA) untuk membaca relasi antara teks, kekuasaan, dan realitas sosial.

"Paradigma Integrasi-Interkoneksi adalah rumah besarnya, sedangkan Critical Discourse Analysis merupakan salah satu pisau bedah yang bekerja di dalam rumah tersebut," katanya.

Melalui gagasan tersebut, Amin menegaskan nilai Pancasila harus hadir membimbing pengembangan sains, teknologi, dan kebijakan publik agar benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....