Pakan Ternak Ruminansia dari Bungkil Biji Nyamplung

  • 28 Jul 2026 15:59 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Tim Peneliti Fakultas Peternakan (Fapet) UGM mengembangkan produk olahan bungkil biji nyamplung, sebagai pakan ternak ruminansia. Mereka berkolaborasi dengan Kelompok Riset Pemuliaan Tanaman Biofuel BRIN.

Para peneliti terdiri dari Dr. Dimas Hand Vidya Paradhipta, Profesor Ali Agus dan Profesor Chusnul Hanim dari Fapet UGM. Sedangkan dari BRIN antara lain Profesor Budi Leksono, Aziz umroni, dan Sinta Maharani.

Ketua Tim Penelitian, Dr. Dimas Hand Vidya Paradhipta menjelaskan, bungkil biji nyamplung (Calophyllum inophyllum) merupakan salah satu alternatif pakan baru untuk ternak ruminansia. Bahan tersebut kadar proteinnya yang tinggi.

”Bungkil biji nyamplung merupakan produk sampingan dari minyak tamanu,” katanya, Selasa, 28 Juli 2026. ”Bungkil tersebut biasa digunakan, untuk memproduksi bahan bakar alternatif yang sedang berkembang di Indonesia.”

Saat ini, produksi bungkil biji nyamplung ini terus meningkat seiiring dengan meningkatnya permintaan minyak tamanu. Palatabilitasnya rendah dengan bau tengik yang tinggi, akibat tingginya konsentrasi lemak.

Menurut Dimas, bungkil biji nyamplung dibuat menjadi konsentrat fermentasi, untuk meningkatkan kecernaan dan kualitas pakan. Penelitiannya juga telah mendapatkan Paten Sederhana dengan Judul "Formula Konsentrat Fermentasi Pakan Ternak Ruminansia Berbahan Utama Bungkil Biji Nyamplung.

”Dengan Nomor Paten IDS000013187 yang diberikan pada tanggal 5 Mei 2026,” ujarnya. ”Paten ini memuat informasi terkait formulasi dan metode untuk membuat fermentasi berbasis bungkil biji nyamplung untuk pakan ternak ruminansia.”

Metode fermentasi bungkil melibatkan mikroba kompleks seperti bakteri asam laktat, yeast, dan bacillus, untuk membantu meningkatkan kecernaan konsentrat. Kadar air pada konsentrat dan lama fermentasi menjadi salah satu faktor utama.

”Untuk mengakselerasi kinerja mikroba untuk menghasilkan peningkatan kecernaan maksimal,” ujarnya. ”Dan juga pertumbuhan probiotik yang optimal bagi ternak.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....