Deepfake Memicu Maraknya Penyebaran Informasi Palsu Digital

  • 02 Jun 2026 22:48 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) terus menghadirkan berbagai inovasi baru di era digital. Salah satu teknologi yang kini menjadi perhatian masyarakat adalah deepfake, yakni teknologi manipulasi video dan audio yang mampu mengubah wajah maupun suara seseorang sehingga terlihat menyerupai aslinya.

Teknologi deepfake bekerja dengan memanfaatkan AI untuk mempelajari ekspresi wajah, gerakan tubuh, hingga pola suara seseorang dari berbagai data visual dan audio. Hasil manipulasi tersebut kemudian diproses menjadi video atau rekaman suara yang tampak realistis dan sulit dibedakan dari konten asli.

Pada awal kemunculannya, deepfake banyak digunakan dalam industri hiburan dan kreatif. Teknologi tersebut dimanfaatkan untuk pembuatan efek visual film, konten media sosial, hingga kebutuhan produksi kreatif lainnya. Penggunaan deepfake dinilai mampu menghadirkan inovasi baru dalam dunia digital yang semakin berkembang pesat.

Pengamat Teknologi Digital, Aditya Prananda, mengatakan perkembangan deepfake menunjukkan kemajuan teknologi AI yang semakin canggih.

“Teknologi ini sebenarnya memiliki banyak manfaat untuk industri kreatif, namun penggunaannya harus disertai tanggung jawab agar tidak disalahgunakan,” ujarnya.

Seiring berkembangnya teknologi, deepfake juga mulai menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Konten manipulasi digital tersebut berpotensi digunakan untuk menyebarkan informasi palsu, penipuan, hingga membentuk opini publik yang menyesatkan. Bahkan, video deepfake kini semakin mudah ditemukan di berbagai platform media sosial.

Pakar literasi digital, Rina Maheswari, mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menerima informasi dari internet. “Masyarakat perlu lebih teliti dan tidak mudah percaya terhadap video yang beredar sebelum memastikan sumber dan kebenarannya,” ucapnya.

Peringatan

Sementara itu, Kantor Wilayah Kementerian Hukum (Kanwil Kemenkum) DIY mengeluarkan peringatan kepada masyarakat terkait maraknya kejahatan digital yang memanfaatkan kecerdasan buatan. Kepala Kanwil Kemenkum DIY Agung Rektono Seto menegaskan, perkembangan teknologi tidak hanya membawa manfaat, tetapi juga menghadirkan ancaman baru yang perlu diwaspadai secara serius.

“Dalam beberapa bulan terakhir, kasus penipuan berbasis AI meningkat tajam. Modus yang digunakan pun semakin canggih, membuat masyarakat sulit membedakan mana konten asli dan mana yang telah dimanipulasi,” kata Agung, Selasa, 2 Juni 2026.

Agung menyebutkan dua bentuk kejahatan yang paling banyak muncul adalah deepfake video dan voice cloning. Deepfake video merupakan teknik manipulasi visual dengan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengubah wajah seseorang dalam sebuah video sehingga tampak seperti tokoh, pejabat, atau orang yang dikenal korban.

Kakanwil Kemenkum DIY menilai perlindungan terhadap masyarakat dari kejahatan digital ini membutuhkan literasi digital yang kuat. Oleh karena itu, pihaknya terus mendorong edukasi terkait keamanan data, kehati-hatian dalam menerima panggilan atau pesan yang mengatasnamakan seseorang, serta pentingnya tidak sembarangan membagikan informasi pribadi di media sosial.

“Teknologi berkembang sangat cepat, dan pelaku kejahatan memanfaatkannya dengan agresif. Karena itu, kewaspadaan digital masyarakat harus ikut berkembang. Jangan mudah percaya pada video, suara, atau pesan yang tiba-tiba muncul verifikasi adalah kunci,”ujar Agung, menandaskan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....