Empat PTKIN Masuk 25 Terbaik Dunia, UIN Yogyakarta Ungguli Harvard University

  • 31 Mar 2026 23:12 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dalam kancah global. Sebanyak empat PTKIN berhasil masuk 25 besar dunia berdasarkan pemeringkatan Scimago Institutions Rankings (SIR) 2026 by Subject pada bidang religious studies.

Hal yang paling mencolok, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta sukses menempati posisi ke-7 terbaik dunia. Tak main-main, UIN Sunan Kalijaga berada di posisi tiga tingkat di atas Harvard University. Pencapaian ini menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan tinggi keagamaan Islam Indonesia di level internasional.

"Prestasi ini adalah bentuk real dari rekognisi internasional atas kualitas PTKIN. Ini menunjukkan bahwa langkah-langkah strategis yang selama ini kita lakukan, mulai dari penguatan publikasi bereputasi, kolaborasi riset lintas negara, hingga peningkatan kapasitas akademik dosen dan kelembagaan telah mendapatkan pengakuan dunia," ujar Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Amien Suyitno, sebagaimana dikutip dari laman resmi Kemenag.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), Sahiron mengatakan, prestasi tersebut tidak hanya membanggakan, tetapi juga menjadi indikator kuat keberhasilan strategi internasionalisasi yang selama ini dijalankan oleh PTKIN.

"Kita melihat bagaimana peningkatan kualitas riset dan jejaring global memberikan dampak signifikan terhadap reputasi akademik di dunia internasional," kata Sahiron.

Selain UIN Sunan Kalijaga, terdapat tiga PTKIN lainnya yang juga menunjukkan performa gemilang. Ketiga PTKIN tersebut yakni UNI Ar-Raniry Banda Aceh yang menduduki peringkat ke-14 dunia, disusul UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di posisi ke-21, dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung peringkat 25.

Adapun pemeringkatan SCImago sendiri didasarkan pada tiga indikator utama, di antaranya kinerja riset sebesar 50 persen, inovasi 30 persen, dan dampak social 20 persen. Basis utamanya yakni pada data publikasi serta sitasi ilmiah yang terindeks secara internasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....