KHFF 2026 Umumkan Para Pemenang Tiga Kategori
- 22 Sep 2026 08:56 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) 2026 memasuki salah satu rangkaian penting melalui agenda awarding yang mengumumkan para pemenang dari tiga kategori kompetisi, yakni Purwaseswa, Karyanagri, dan Mahaditya. Penghargaan tersebut diberikan kepada film-film yang dinilai mampu menerjemahkan warisan budaya melalui beragam perspektif dan pendekatan sinema.
Pengumuman penghargaan berlangsung di Artotel Suites Bianti Yogyakarta, Sabtu 19 September 2026. Ketiga kategori kompetisi tersebut menghadirkan karya dari pelajar, komunitas, hingga sineas independen dari berbagai daerah di Indonesia, dengan tema yang beragam mulai dari tradisi, kehidupan masyarakat, relasi antargenerasi, hingga persoalan pelestarian budaya.
Pada kategori Purwaseswa, yang berfokus pada film bermuatan warisan budaya karya pelajar Indonesia, dewan juri tidak hanya mempertimbangkan jumlah tradisi yang ditampilkan dalam film. Penilaian juga mencakup kemampuan karya dalam menyusun gagasan, mengamati kehidupan, merekam pengetahuan, serta membuka kemungkinan film menjadi arsip yang dapat dipelajari generasi mendatang.
Juri KHFF 2026, Nisa Fitriani, mengatakan karya yang masuk menunjukkan beragam cara dalam melihat dan menghadirkan warisan budaya. Menurutnya, film memiliki potensi lebih luas ketika tidak sekadar mendokumentasikan tradisi, tetapi juga mampu merekam pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat. “Yang lebih penting adalah bagaimana film menyusun gagasan, mengamati kehidupan, merekam pengetahuan, serta membuka kemungkinan bagi suatu karya untuk berfungsi sebagai arsip yang dapat dibaca kembali oleh generasi mendatang,” ujar Nisa.
Untuk kategori Purwaseswa, Juri Special Mention Purwaseswa Award diberikan kepada film TUWUHÈ RARÈ (Anak yang Bertumbun) karya Gede Dika Dheva Arladi dari Denpasar, Bali. Penghargaan tersebut diberikan atas kekuatan visual film dalam merekam proses transmisi nilai antargenerasi melalui sinematografi, penataan blocking, serta pengamatan terhadap relasi antarkarakter.
Sementara itu, Silver Purwaseswa Award diraih film Serada karya Septiani Putri dari Kebumen, Jawa Tengah. Film tersebut dinilai mampu menghadirkan relasi antara tradisi Jawa Tengah dan Islam dengan tetap mempertahankan pengetahuan serta praktik budaya yang berkembang di masyarakat. Adapun Golden Purwaseswa Award diberikan kepada film Mupusti: Melestarikan dan Merawat Bukan Menyembah karya Ilya Fathimah Taqiyya dari Bandung, Jawa Barat, yang dinilai mampu menguraikan persoalan pelestarian tradisi secara utuh, termasuk ketika berhadapan dengan stigma dan perubahan zaman.
Berikutnya, kategori Karyanagri menjadi ruang bagi karya film yang mengeksplorasi warisan budaya melalui komunitas dan relasi sosial di tengah masyarakat. Juri Karyanagri, M. Zamzam Fauzanafi, menilai warisan budaya tidak selalu bertahan melalui hubungan langsung dengan negara atau pemerintah, melainkan juga melalui komunitas, relasi antargenerasi, negosiasi sosial, serta kemampuan masyarakat dalam merawat perbedaan.
Dalam kategori tersebut, Juri Special Mention Karyanagri Award diberikan kepada film Khatib Gantarang Lalang Bata karya Zhaddam A. Nurdin dari Makassar, Sulawesi Selatan. Film ini mendapat apresiasi atas kekuatan audio dan suara yang menjadi elemen penting dalam membawa penonton memahami tradisi Islam dan praktik kehidupan berkomunitas di Sulawesi Selatan.
Silver Karyanagri Award kemudian diberikan kepada film Mateos Anin karya Gilang Akbar dari Banyumas, Jawa Tengah, yang dinilai kuat dalam menghadirkan pengetahuan warisan budaya komunitas, relasi manusia dengan alam, serta akulturasi antara tradisi lokal dan Katolik. Sementara Golden Karyanagri Award diraih film Bong, yang dinilai mampu menghadirkan kompleksitas kehidupan masyarakat melalui pertemuan ruang tinggal dan makam, dengan pemanfaatan lokasi nyata di kawasan pemakaman Tionghoa untuk membangun karakter secara organik.
Kategori ketiga, Mahaditya, menjadi ruang bagi suara-suara independen dalam menyampaikan narasi warisan budaya melalui bahasa sinema. Juri Mahaditya, Imam Karyadi, mengatakan kategori ini membawa semangat demokratisasi sudut pandang dengan memberikan perhatian pada keunikan, kesegaran, dan kedaulatan pencipta dalam membaca konsep heritage. “Kami melihat bagaimana para pencipta menghadirkan perspektif yang khas dan segar dalam membaca heritage, sehingga warisan budaya dapat dipahami melalui sudut pandang yang beragam,” ucap Imam.
Juri Special Mention Mahaditya Award diberikan kepada film Hope karya Angel Ching dari Yogyakarta. Film tersebut dinilai berani menghadirkan keragaman identitas dan keyakinan melalui drama keluarga. Hope memperlihatkan bahwa tradisi tidak hanya menjadi latar cerita, tetapi turut membentuk konflik sekaligus penyelesaian dalam kehidupan para tokohnya. Untuk Silver Mahaditya Award, penghargaan diberikan kepada film Naijan On Hai Aina karya Wisnu Febri Wardana dari Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Film ini mengangkat perjuangan masyarakat Molo dalam mempertahankan pengetahuan lokal dan warisan budaya di tengah ancaman pariwisata, pertambangan, serta perubahan ekologis.
Sementara itu, Golden Mahaditya Award diraih film Niat Ingsun Ngaji karya Sri Rahmawati dari Cilacap, Jawa Tengah. Film tersebut dinilai berhasil menghadirkan pesantren sebagai ruang pendidikan, kebudayaan, dan kehidupan sosial yang terus berkembang. Karya ini memperlihatkan dialog antara Islam, seni, sastra, tradisi lokal, dan praktik pendidikan. Secara keseluruhan, rangkaian penghargaan KHFF 2026 menunjukkan beragam cara sineas dalam menerjemahkan konsep living heritage ke dalam karya audiovisual. Melalui tiga kategori kompetisi, warisan budaya tidak hanya ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai praktik yang terus dirawat, diwariskan, dipertanyakan, dan dimaknai kembali oleh generasi masa kini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....