Semangat Inklusi Warnai Perayaan HDSD 2026 Yogyakarta

  • 12 Apr 2026 12:28 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Perayaan Hari Down Syndrome Dunia (HDSD) 2026 di Yogyakarta berlangsung semarak dan penuh makna. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran publik sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam membangun masyarakat yang inklusif bagi penyandang Down Syndrome.

Kegiatan bertajuk “Together Against Loneliness: Bersama Melawan Keterbatasan” ini digelar oleh Persatuan Orang Tua Anak Dengan Down Syndrome (PIK POTADS) Yogyakarta bekerja sama dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Daerah Istimewa Yogyakarta (BPKP DIY) dan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM). Acara tersebut tidak hanya menjadi ajang peringatan, tetapi juga ruang kolaborasi lintas sektor dalam mendukung kehidupan yang lebih setara bagi anak-anak Down Syndrome.

Ketua PIK POTADS Yogyakarta Siti Nurjanah, S.Pd. SD, menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki makna lebih dari sekadar seremoni. “Ini bukan sekadar acara seremonial, tapi gerakan nyata membangun inklusi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dukungan dari berbagai pihak menjadi kunci dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan.

Acara yang berlangsung di Aula Kantor Perwakilan BPKP DIY ini menghadirkan berbagai kalangan, mulai dari tenaga kesehatan, akademisi, hingga keluarga anak Down Syndrome. Salah satu penyelenggara menyampaikan pentingnya ruang aman bagi semua pihak. “Kami ingin menciptakan ruang aman bagi semua untuk saling terhubung,” ujarnya.

HDSD 2026 di Yogyakarta menghadirkan bukti nyata bahwa setiap anak istimewa mampu berkarya, menginspirasi, dan menjadi bagian penting dalam masyarakat yang inklusif. (Foto: Istimewa)

Kehadiran Wakil Gubernur DIY, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam X atau Gusti Putri, turut menjadi simbol kuat dukungan pemerintah terhadap inklusi sosial. Partisipasi pemerintah daerah ini diharapkan mampu mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada penyandang disabilitas, khususnya anak-anak dengan Down Syndrome.

Tidak hanya berisi seremoni, kegiatan ini juga menghadirkan layanan kesehatan langsung. Pemeriksaan telinga oleh dokter spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) menjadi salah satu sorotan utama. Tenaga medis di lokasi menekankan pentingnya perhatian terhadap gangguan pendengaran. “Gangguan pendengaran pada anak Down Syndrome sering terabaikan, padahal berdampak besar,” katanya. Ia juga menambahkan, “Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang anak berkembang optimal,” ujarnya.

Sesi talkshow turut menarik perhatian peserta dengan menghadirkan narasumber ahli. dr. Lulus Hardiyanti menekankan pentingnya pendekatan rehabilitasi berbasis fungsi. “Intervensi dini dan pendekatan multidisiplin adalah kunci kemandirian anak,” ujarnya.

Sementara itu, moderator dr. Camelia Herdini menegaskan pentingnya peran keluarga. “Peran orang tua tidak tergantikan dalam proses tumbuh kembang anak,” ucapnya.

Sebagai penutup, panggung kreativitas anak Down Syndrome sukses memukau para hadirin. Berbagai penampilan seperti tari tradisional, musik angklung, hingga fashion show ditampilkan dengan penuh percaya diri. Salah satu orang tua mengungkapkan kebanggaannya, “Mereka bukan hanya mampu, tapi juga bisa berprestasi,” katanya. Kegiatan ini pun menegaskan bahwa inklusi bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang harus terus diperjuangkan bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....