Tiga Dekade Menjaga Nafas Gamelan, Merangkul Generasi Baru

  • 21 Jul 2025 23:52 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta: Di tengah senja Yogyakarta yang hangat, denting gamelan menggema dari Embung Giwangan, bukan hanya sebagai pertunjukan, tapi sebagai penanda napas panjang tradisi yang masih hidup. Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) ke-30 bukan sekadar ulang tahun sebuah acara budaya, tapi selebrasi tiga dekade pertemuan antara bunyi, generasi, dan zaman yang terus berubah.

Generasi muda ikut andil dalam Yogyakarta Gamelan Festival ke-30 di Taman Budaya Embung Giwangan, Senin(21/7/2025). (Foto: RRI/Kerin Susilandari)

Tahun ini, YGF genap berusia 30 tahun. Bukan angka yang kecil untuk sebuah festival yang lahir dari semangat komunitas dan idealisme. Selama tujuh hari, mulai dari 21 hingga 27 Juli 2025, berbagai acara diselenggarakan. Tidak hanya konser gamelan tradisional, tapi pameran arsip festival, lokakarya, pasar cokekan, forum diskusi, sampai pertunjukan gamelan elektronik dan konser Maestro.

Di tengah kerumunan, tampak beberapa wajah muda mematung di depan panggung. Mereka bukan sekadar penonton, melainkan peserta lokakarya gamelan dari sekolah-sekolah di Yogyakarta. Salah satunya adalah Dinda seorang siswi dari salah satu SMK di Yogyakarta.

“Awalnya aku ikut karena tugas sekolah, tapi ternyata ketagihan. Main gamelan tuh kayak ngobrol, tapi pakai bunyi,” ucapnya.

Tahun ini, keterlibatan anak muda terlihat semakin kuat. Banyak di antara mereka bukan hanya menjadi penonton, namun juga tampil di panggung, menjadi relawan, bahkan terlibat dalam proses kreatif.

Gamelan yang dulu identik dengan generasi tua, kini mulai jadi medium ekspresi baru bagi generasi muda. Lewat pendekatan yang lebih terbuka, YGF ingin menunjukkan bahwa gamelan bisa tumbuh bersama zaman tanpa kehilangan akar.

Salah satu penggagas YGF sekaligus Direktur Festival, Ari Wulu, menyebut bahwa perayaan ke-30 ini bukan sekadar perayaan, melainkan momentum untuk menyatukan gagasan lintas generasi.

“Kami berpikir ini perlu dirayakan sebagai niat baik menghadirkan gamelan sampai hari ini dalam format apa pun. Kali ini, kami berusaha mewujudkan YGF sebagai sebuah festival musik, seni, dan anak muda dengan spirit gamelan," ucap Ari.Ml

YGF ke-30 membuktikan bahwa gamelan tak berhenti di museum atau pendapa. Ia hidup di panggung, di kelas-kelas terbuka, bahkan di genggaman generasi muda yang sedang mencari bentuk ekspresinya, dari acara lokakarya, diskusi hingga konser lintas genre. Terlihat betul bahwa spirit gamelan dapat masuk ke mana saja asal dijalankan dengan ketulusan dan ruang terbuka.

Nantinya selama tujuh hari, denting gamelan tidak hanya menggema di telinga, namun juga di hati para pengunjung. Dari panggung ke rumput hijau Embung Giwangan, dari anak-anak hingga para sesepuh, YGF akan menjadi pengingat bahwa tradisi tak harus kaku untuk tetap hidup. Ia cukup diberi ruang, dirayakan, dan diwariskan dengan caranya masing-masing. (Kerin Susilandari)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....