Ramadan di Masjid Gedhe Kotagede, Menjaga Kesucian dan Warisan Mataram Islam
- 27 Feb 2026 17:42 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Bulan suci Ramadan menghadirkan suasana tersendiri di Masjid Gedhe Mataram Kotagede, Yogyakarta. Sebagai masjid peninggalan dinasti Mataram Islam, masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang pelestarian nilai budaya dan kesucian yang terus dijaga hingga kini.
Selama Ramadan, aktivitas di Masjid Gedhe Mataram Kotagede berlangsung hampir sepanjang hari. Sejak salat Subuh hingga dini hari, jamaah silih berganti datang untuk mengikuti rangkaian ibadah yang telah disiapkan oleh takmir masjid.
Pengurus Takmir Masjid Gedhe Mataram Kotagede, Muhammad Arsyad, saat ditemui sore itu menyampaikan kegiatan Ramadan dimulai pada sore hari dengan kajian jelang berbuka dan buka puasa bersama.
“Kalau buka puasa itu hadir sekitar 350 orang, dananya semua dari donator,” ucap Arsyad, salah satu pengurus takmir
.webp)
Setelah berbuka, jamaah melaksanakan salat Isya dilanjutkan Tarawih. Masjid Gedhe Mataram Kotagede menerapkan dua pola pelaksanaan Tarawih. Sesi pertama digelar setelah Isya, tanpa ceramah, dengan durasi yang singkat.
Tarawih pada sesi ini diperuntukkan bagi jamaah yang memiliki kesibukan. Imam salat berasal dari para hafiz Al-Qur’an, sehingga pelaksanaan Tarawih berlangsung ringkas.
Selain itu, takmir juga menggelar Tarawih sesi kedua pada dini hari, sekitar pukul dua hingga tiga pagi. Sesi ini ditujukan bagi jamaah yang ingin beribadah dengan lebih khusyuk, dengan bacaan salat yang lebih panjang.
“Lebih khusyuk dengan ayat panjang-panjang, harus bersabar. Tidak haya lansia anak muda juga banyak,” katanya.
Setelah salat malam, jamaah dipersilahkan untuk menyantap menu sahur yang telah disediakan oleh Takmir. Arsyad menuturkan Jamaah Masjid Gedhe Mataram Kotagede tidak hanya berasal dari warga sekitar.
Sebagian besar justru datang dari luar wilayah Kotagede, bahkan dari luar kota. “Warga sini paling sekitar 25 persen. Banyak yang dari luar kota, seperti Klaten, Solo, sampai Kebumen. Mereka biasanya ingin itikaf di sini,” ucapnya menjelaskan.
Tak ketinggalan, Takmir Masjid Gedhe Mataram Kotagede juga menggelar tadarus Al-Qur’an setiap malam. Pada akhir Ramadan, masjid juga mengadakan khataman Al-Qur’an sebagai bentuk syukur telah menyelesaikan bacaan hingga juz ke-30.

Di tengah tingginya aktivitas Ramadan, takmir menaruh perhatian besar pada upaya menjaga kesucian masjid. Hal ini tidak terlepas dari status Masjid Gedhe Mataram Kotagede sebagai milik Keraton Yogyakarta.
“Takmir itu diberi kekancingan oleh keraton. Ada SK kekancingan untuk mengurus masjid, dipasrakan masyarakat untuk kemakmurannya,” ujar Arsyad.
Sebagai bagian dari pengelolaan tersebut, takmir menerapkan sejumlah aturan. Jamaah dan pengunjung diminta berpakaian sopan serta menjaga tata krama. Ruang utama masjid hanya dibuka pada waktu salat wajib dan Tarawih, sementara di luar waktu tersebut jamaah diarahkan menggunakan serambi.
Pengaturan ini dilakukan untuk menjaga kemuliaan dan kesucian masjid, mengingat Masjid Gedhe Mataram Kotagede juga menjadi tujuan wisata religi dengan pengunjung dari berbagai latar belakang.
“Karena ini masjid wisata, jadi pengunjung itu bermacam-macam. Ada yang muslim, ada yang tidak muslim. Ada yang ingin salat, ada yang tidak ingin salat. Makanya kita jaga kesuciannya masjid itu,” ujarnya mengakhiri.
Melalui rangkaian ibadah Ramadan yang tertata, serta komitmen menjaga nilai budaya dan kesucian, membuktikan Masjid Gedhe Mataram Kotagede sebagai masjid bersejarah tetap hidup dan berfungsi di tengah masyarakat tanpa meninggalkan warisan yang ada.