Matcha Jadi Teman Mahasiswa Menuntaskan Skripsi
- 21 Sep 2026 16:10 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Di tengah menjamurnya kedai kopi kekinian, minuman berbahan dasar bubuk teh hijau Jepang atau matcha mulai mencuri perhatian kalangan anak muda di Yogyakarta. Salah satu produk yang ikut dikenal adalah Luma Matcha, yang menarik perhatian berkat cita rasa lembut, warna hijau yang khas, serta karakter minuman yang dianggap lebih ringan dibandingkan kopi. Tren tersebut turut berkembang di kalangan mahasiswa yang mencari alternatif minuman untuk menemani aktivitas akademik.
Bagi mahasiswa, khususnya mereka yang memasuki semester akhir, minuman berkafein kerap menjadi bagian dari rutinitas ketika mengerjakan skripsi maupun tugas akhir. Matcha kemudian hadir sebagai pilihan lain untuk menemani aktivitas membaca, menulis, revisi, hingga berdiskusi dengan dosen pembimbing. Bagi sebagian mahasiswa, konsumsi matcha tidak hanya berkaitan dengan tren, tetapi juga menjadi bagian dari kebiasaan untuk menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman.
Salah satu mahasiswa semester akhir di Yogyakarta, Rania, mengaku mulai rutin mengonsumsi matcha ketika proses revisi skripsinya memasuki tahap akhir. Awalnya, ia mencoba minuman tersebut karena melihat popularitas matcha di media sosial. Namun, setelah beberapa kali mengonsumsinya, Rania merasa cocok dengan karakter rasanya. “Awalnya cuma ikut-ikutan karena lagi viral di media sosial, tapi lama-lama ketagihan. Rasanya lebih tenang dibanding minum kopi, nggak bikin deg-degan saat sedang diskusi dengan dosen pembimbing,” ujarnya.
Ketertarikan mahasiswa terhadap matcha juga berkaitan dengan kandungan alaminya. Matcha mengandung kafein dan L-theanine, senyawa yang banyak dikaji terkait perhatian dan kondisi rileks. Kombinasi tersebut membuat sebagian konsumen memilih matcha ketika membutuhkan minuman yang tetap mengandung kafein, tetapi tidak ingin mengandalkan kopi. Meski demikian, respons setiap orang terhadap kafein tetap dapat berbeda sehingga manfaat maupun efek yang dirasakan tidak selalu sama.
| Baca juga: Cimol Stik Kentang Ramaikan Jalan Terban UGM |
Tren tersebut juga tidak terlepas dari pertimbangan ekonomi. Harga minuman matcha di kedai atau gerai minuman tertentu dapat menjadi pengeluaran tambahan bagi mahasiswa, terutama mereka yang harus mengatur anggaran untuk kebutuhan kuliah dan kehidupan sehari-hari. Fajar, mahasiswa tingkat akhir lainnya, mengaku sesekali memilih membuat matcha sendiri di tempat tinggalnya agar pengeluaran lebih terkendali. “Enak sih, tapi kalau tiap hari beli lumayan juga buat kantong anak akhir semester. Kadang aku pilih bikin sendiri di kos supaya lebih hemat,” katanya.
Fenomena konsumsi matcha di kalangan mahasiswa juga memperlihatkan pertemuan antara kebutuhan akademik, tren gaya hidup, dan budaya media sosial. Tampilan matcha yang khas membuat minuman ini mudah menjadi bagian dari konten digital, sementara citranya sebagai alternatif kopi ikut mendorong rasa ingin tahu konsumen muda. Namun, anggapan bahwa matcha selalu memberikan efek lebih tenang atau lebih sehat perlu ditempatkan secara proporsional karena kandungan kafein tetap ada dan efeknya bergantung pada jumlah konsumsi serta kondisi masing-masing individu.
Bagi sebagian mahasiswa yang tengah menyelesaikan tugas akhir, secangkir matcha akhirnya menjadi bagian kecil dari rutinitas menghadapi berbagai tenggat akademik. Popularitas Luma Matcha dan produk sejenis menunjukkan bahwa pilihan minuman anak muda kini tidak hanya dipengaruhi rasa, tetapi juga pengalaman, tampilan, kebiasaan, serta persepsi mengenai produktivitas dan keseimbangan aktivitas. Di tengah padatnya proses menyelesaikan skripsi, matcha pun hadir sebagai salah satu teman yang menemani mahasiswa menjalani hari-hari akademiknya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....