Pelatihan dan Pendampingan UMKM Jadi Perhatian di Yogyakarta
- 05 Mar 2026 22:40 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Perkembangan UMKM sekarang semakin maju, dan sangat terbuka. Dan para investor juga sudah sangat proaktif terhadap keberadaan UMKM. Mulai dari usaha fesyen, kuliner, handycraft, gerabah dan lain sebagainya.
Menurut Erwin Yunita SH, MM selaku owner Bahana Batik dan Ketua DPD Ikatan Wanita Pengusaha (IWP) Bantul, saat menjadi narasumber di RRI Yogyakarta beberapa waktu yang lalu, mengatakan bentuk investasi yang ditanamkan itu bukan secara finansial, tapi bermacam-macam.
“Contohnya di Sekretaris IWP punya program yaitu Gerakan Seribu Srikandi Bangkit Berkaya. Di mana tugasnya melatih dan mendampingi ibu-ibu yang notabene ibu rumah tangga yang menjadi wirausaha mandiri,” katanya.
Ikatan Wanita Pengusaha (IWP) merupakan sebuah organisasi yang isinya itu semuanya perempuan, para Srikandi tersebut semuanya punya usaha sendiri. Saling sharing dan berbagi ilmu lewat pendampingan, melatih ibu-ibu rumah tangga agar mandiri dan berpenghasilan sendiri.
“Apalagi sekarang banyak sekali kolaborasi yang bisa digandeng baik dari pemerintah maupun BUMN. Jadi intinya lebih baik berusaha maju bersama-sama jauh lebih ringan daripada berusaha secara individu,” ujar Erwin beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut Erwin menjelaskan, modal besar tidak menjanjikan seorang pengusaha jadi sukses dan besar. Menurutnya yang paling utama adalah membulatkan niat.
“Selanjutnya buat planning terlebih dahulu, pasti bisa mengelola usahanya dengan baik, dan berjalan dengan lancar. Dalam merintis usaha memang penting mengenal istilah 4K. Kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaborasi,” ucap dia.
Selain itu ketika membuka usaha harus mampu membidik pasar dengan menargetkan segmen yang dituju atau disasar itu siapa. Di sini harus jelas agar produk yang dijual tepat sasaran.
“Jangan lupa ke depankan komunikasi ini sangat penting , karena bagaimana bisa dipercaya suatu konsumen, kalau tidak bisa meyakinkan sebuah produk yang akan dijual. Semuanya ini dilakukan pasti dengan berkomunikasi,” ujar Erwin, menambahkan.
Harus sadar pentingnya merek
Setelah membangun komunikasi dengan berbagai pihak, perlu juga melakukan evaluasi. Evaluasi dilakukan untuk menakar mana yang sudah baik dan mana yang perlu dibenahi dalam mengelola sebuah usaha .
“Dan yang terakhir membuka peluang dengan pihak luar dengan melakukan kolaborasi. Fungsinya bisa berupa investasi dan bekerjasama dengan investor salah satunya,” kata Erwin, menandaskan.
Sementara itu, transformasi digital di Yogyakarta mendorong pertumbuhan pelaku UMKM berbasis daring. Dari produk kuliner hingga fesyen lokal, pelaku usaha memanfaatkan marketplace dan media sosial untuk memperluas pasar.
Namun di balik pertumbuhan tersebut, masih banyak pelaku UMKM yang belum memahami pentingnya perlindungan merek. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum (Kanwil Kemenkum) DIY Agung Rektono Seto menegaskan bahwa perlindungan kekayaan intelektual menjadi kunci keberlanjutan usaha.
“Banyak UMKM di DIY sudah naik kelas secara pemasaran, tetapi belum naik kelas secara perlindungan hukum. Pendaftaran merek bukan sekadar formalitas, melainkan investasi jangka panjang,” ujarnya, Selasa, 3 Maret kemarin.
Menurut Agung, meningkatnya kesadaran hukum akan melindungi pelaku usaha dari potensi sengketa di kemudian hari. Ia menyebut, Kanwil Kemenkum DIY terus melakukan sosialisasi dan pendampingan ke kabupaten/kota untuk memastikan pelaku usaha memahami prosedur dan manfaat pendaftaran merek.
Agung mengakui DIY memiliki potensi ekonomi kreatif yang besar. Ia tidak ingin karya
anak muda Jogja justru diambil pihak lain karena lalai mendaftarkan haknya. Perlindungan hukum adalah fondasi daya saing.
“Transformasi digital harus selaras dengan transformasi kesadaran hukum. Kami ingin UMKM Jogja tumbuh kuat, bukan hanya laris, tetapi juga terlindungi,” kata Agung, menambahkan.