AI Segera Lakukan Transaksi Mandiri, Kepercayaan Digital Diperluas

  • 11 Jul 2026 14:35 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Kecerdasan buatan (AI) dalam beberapa tahun ke depan, tidak sekedar membantu manusia melakukan analisis dan terlibat dalam proses pekerjaan. Namun, juga mengambil keputusan hingga eksekusi transaksi keuangan secara mandiri.

Terkait hal itu, Privy sebagai Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE) memperluas infrastruktur kepercayaan digital, untuk memverifikasi agen AI (agentic AI). Yaitu melalui pendekatan matematis berbasis kripografi.

CEO and Co-Founder Privy, Marshall Pribadi memastikan, kebutuhan terhadap mekanisme identitas dan otorisasi yang dapat dibuktikan semakin penting. Ketika penggunaan AI mulai menimbulkan hal dan kewajiban hukum.

”Karena itu, digital trust tidak hanya relevan untuk kebutuhan kita saat ini,” ucapnya melalui siaran pers tertulis, Sabtu, 11 Juli 2026. ”Tetapi juga akan menjadi fondasi penting, bagi ekosistem ekonomi digital berbasis AI di masa depan.”

Menurut Marshall, transformasi itu terjadi ketika sektor jasa keuangan Indonesia memasuki fase baru. Yang ditandai dengan semakin terintegrasinya layanan perbankan, fintech, dan berbagai platform digital melalui konsep Universal Banking, Embedded Finance, dan Open Finance.

Dalam ekosistem yang semakin terhubung, kepercayaan menjadi elemen penting yang memungkinkan berbagai layanan digital dapat beroperasi secara aman dan efisien. Termasuk dalam merespon perkembangan peran agen AI.

”Sehingga setiap keputusan dan transaksi yang dijalankan AI memiliki rekam jejak identitas,” katanya. ”Serta otorisasi yang dapat diaudit dan dipertanggungjawabkan secara hukum.”

Transformasi menuju era beyond banking atau layanan digital perbankan yang dapat diakses melalui perangkat digital, butuh fondasi kepercayaan yang sama kuatnya dengan infrastruktur teknologinya. Selama ini banyak institusi keuangan masih melakukan berbagai lapisan verifikasi.

”Hanya sekedar untuk memastikan identitas pengguna dan memitigasi risiko fraud atau penipuan,” ucapnya. ”Ketika setiap institusi harus membangun proses verifikasinya sendiri, biaya operasional menjadi lebih tinggi dan pengalaman pengguna kurang efisien.”

Maka, ia melihat digital trust sebagai infrastruktur bersama yang dapat diandalkan oleh berbagai pelaku industri untuk memperkuat kepastian identitas. Kemudian mengurangi kompleksitas verifikasi, dan mendukung efisiensi pertumbuhan ekosistem keuangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....