Generasi Z Perlu Cerdas Kelola Keuangan sejak Dini

  • 14 Mei 2026 17:15 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Perencanaan keuangan menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi generasi muda di tengah meningkatnya biaya hidup dan kondisi pemasukan yang belum stabil. Generasi Z dinilai perlu mulai memahami pengelolaan finansial sejak dini agar tidak terjebak dalam pola hidup konsumtif dengan pengeluaran yang lebih besar dibanding pendapatan.

Pakar ekonomi dan keuangan syariah, Dimas Bagus Wiranatakusuma, menilai kemampuan mengelola keuangan harus dibangun sejak usia muda sebagai fondasi menuju kestabilan ekonomi di masa depan. Hal itu disampaikannya saat diwawancarai di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu 13 Mei 2026. “Planning is bringing the future into the present. Artinya kita memotret masa depan ke kondisi hari ini supaya kita tahu apa yang harus dilakukan sekarang,” ujar Dimas.

Menurut Dimas, langkah awal dalam menyusun perencanaan keuangan adalah memahami kondisi finansial pribadi melalui financial profile. Cara tersebut dilakukan dengan mengukur keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran untuk mengetahui tingkat kesejahteraan seseorang. Ia menjelaskan, kondisi keuangan ideal terjadi ketika pendapatan berada di atas biaya hidup sehingga masih tersedia ruang untuk menabung, berinvestasi, hingga membangun dana darurat.

Sebaliknya, kondisi paling berisiko muncul ketika pengeluaran lebih besar dibanding pemasukan. Dimas menegaskan pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan agar kondisi finansial tetap sehat. “Kalau cost lebih tinggi daripada income, tingkat kemakmuran kita akan menurun. Makanya penting membedakan antara kebutuhan dan keinginan,” katanya.

Selain memahami profil finansial, generasi muda juga perlu melakukan financial check atau evaluasi kesehatan keuangan secara berkala. Dalam praktiknya, Dimas menyarankan pembagian pemasukan ke dalam tiga pos utama, yakni living, saving, dan refreshing. Pos living digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, saving dialokasikan untuk tabungan dan investasi, sedangkan refreshing menjadi anggaran hiburan yang disesuaikan dengan kemampuan finansial.

Ia juga menekankan pentingnya pengendalian pengeluaran melalui rasio keuangan tertentu, termasuk batas aman utang. Menurutnya, proporsi utang ideal sebaiknya tidak melebihi 50 persen dari total pendapatan. “Kalau income kita sudah dibagi-bagi berdasarkan posnya, berarti kita sudah punya desain keuangan. Jadi bukan hidup by accident, tapi by design,” ujarnya.

Dimas turut mengingatkan generasi muda untuk memahami konsep time value of money, yakni nilai uang saat ini lebih tinggi dibanding masa mendatang akibat inflasi. Pemahaman tersebut dinilai penting agar generasi muda tidak hanya fokus pada gaya hidup konsumtif jangka pendek, tetapi juga mulai membangun aset untuk kebutuhan masa depan. “Yang paling penting itu kontrol diri dan tujuan hidup. Uang itu harus punya nilai manfaat, bukan hanya habis untuk hal-hal impulsif,” ujarnya, menandaskan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....