Inflasi Tahunan Yogyakarta Tembus 5,19 Persen, Tarif Listrik Jadi Pemicu Utama

  • 03 Mar 2026 12:51 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi di Kota Yogyakarta memiliki rentan yang cukup tinggi sebesar 5,19 persen secara Year on Year. Angka ini mengalami lompatan cukup jauh jika dibanding inflasi tahunan pada Januari 2026 yang berada di level 3,55 persen.

Kepala BPS Kota Yogyakarta, Joko Prayitno mengatakan, secara umum terjadinya rentan yang cukup tinggi secara tahunan dikarenakan secara Month-to-Month pada bulan Februari 2025 justru mengalami deflasi. Bahkan pada tahun 2025 sempat terjadi dua deflasi pada awal tahun.

"Di dua bulan awal itu adalah dengan adanya subsidi listrik, sehingga terjadi secara Month-to-Month di tahun 2025 itu terjadi dua kali deflasi di awal tahun. Sedangkan di tahun ini terjadi inflasi, nah di bulan Januari kemarin secara year on year inflasinya 3,55 persen, sedangkan di bulan Februari ini year on year 5,19 persen," katanya, dalam rilis berita statistik, Senin, 2 Maret 2026.

Joko menyampaikan, inflasi tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasanya lainnya sebesar 26,47 persen dan memberi andil 1,66 persen, disusul pemberi andil terbesar 2,21 persen pada perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah dengan inflasi 16,04 persen, serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,10 persen dengan andil pada inflasi 0,76 persen. Sedangkan pendidikan mengalami inflasi 2,29 persen dengan andil penyumbang inflasi 0,23 persen dan menariknya pada kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan justru mengalami deflasi minus 0,05 Persen.

"Komoditas yang memberikan andil dominan terhadap inflasi year on year ini pertama tarif listrik ini memberikan menjadi pendorong terjadinya inflasi year on year sebesar 2,01 persen, kemudian emas perhiasan 1,58 persen, lalu itu akademi atau perguruan tinggi 0,11 persen, kemudian beras 0,11 persen, dan kontrak rumah 0,10 persen. Kemudian daging ayam ras 0,07 persen, dan Sepeda motor, kemudian bawang merah, telur ayam ras dan sekolah dasar ini masing-masing memberi andil 0,06 persen," ucapnya.

Sementara komoditas yang menjadi penghambat inflasi adalah bensin minus 0,14 persen, bawang putih minus 0,06 persen, cabai merah minus 0,05 persen, wortel minus 0,03 persen dan telepon seluler minus 0,02 persen. Sementara untuk komiditas, sabun deterjen bubuk, dan kentang masing-masing minus 0,02 persen, sedangkan kembang kol dan tarif kendaraan roda empat online minus 0,01 persen.

Lebih lanjut Joko menjelaskan, secara Month to Month atau bulanan pada Februari 2026 terjadi inflasi sebesar 0,72 persen, dengan andir pengeluaran terbesar pada kelompok Makanan Minuman dan Tembakau 0,39 persen atau terjadi inflasi 1,62 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,29 persen atau terjadi inflasi 4,00 persen. Sedangkan untuk transportasi justru mengalami deflasi sebesar minus 0,05 atau memberi andil inflasi minus 0,01 persen.

Andil utama pendorong inflasi secara bulanan tertinggi pada komoditas emas perhiasan dengan andil 0,28 persen, disusul cabai rawit memberikan andil 0,10 persen, daging ayam ras 0,06 persen, angkutan udara 0,05 persen, cabai merah 0,04 persen, telur ayam ras dan beras memberi andil masing-masing 0,02 persen, serta komoditas Sigaret Kretek Mesin atau SKM, Nangka Muda, dan Mobil masing-masing memberikan andil 0,01 persen. Sementara komoditas penghambat tertinggi pada komoditas BBM yang sempat mengalami penurunan dan memberi andil minus 0,07 persen, wortel minus 0,02 persen, serta apel dan jambu batu masing-masing minus 0,01 persen.

"Penyumbang utama inflasi bulan Februari 2026 secara Month-to-Month adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,39 persen, kemudian komoditas penyumbang utama inflasi yaitu cabe rawit," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....