Keikhlasan Berkarya Membawa Sri Lestari tetap Eksis di Dunia Kethoprak
- 08 Sep 2026 09:06 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, SLEMAN — Keikhlasan dalam berkarya pada akhirnya dapat berbuah manis. Hal itu dirasakan oleh Hj. Sri Lestari, atau yang akrab disapa Mbak Sri Pereng. Seniwati senior di Keluarga Kesenian Jawa RRI Yogyakarta tersebut tetap aktif berkarya di dunia seni tradisi, meskipun telah memasuki masa purna tugas sebagai karyawati LPP RRI Yogyakarta.
Mbak Sri mendapat julukan Sri Pereng karena rumahnya berada di wilayah Pereng, Sumberharjo, Prambanan, Sleman. Perjalanan perempuan yang dikenal murah senyum tersebut di dunia seni kethoprak bermula dari kegemarannya menonton pertunjukan.
Menjadi seniwati kethoprak bukanlah cita-cita Mbak Sri ketika masih kecil. Namun, kegemaran menonton pertunjukan kethoprak perlahan menumbuhkan ketertarikannya untuk mengenal lebih jauh kesenian tradisi tersebut.
“Tadinya saya hanya senang nonton, tapi kok lama-lama ingin kenal dan akhirnya keterusan,” ujar Mbak Sri.
Ketertarikan tersebut kemudian mendorong Mbak Sri untuk serius belajar seni kethoprak kepada para seniornya. Keseriusan itu membuat kemampuannya semakin dikenal hingga banyak pihak mengundangnya untuk tampil dalam berbagai pementasan kethoprak di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sejumlah daerah lain.
“Dari sinilah saya serius belajar kepada para senior saat itu. Karena keseriusan inilah saya menjadi dikenal dan banyak yang kemudian mengundang saya untuk ikut bermain dan pentas kethoprak di DIY dan sekitarnya, bahkan sampai keluar Pulau Jawa. Semua itu saya syukuri, Mas,” katanya.
Kecintaannya terhadap seni tradisi juga membuka jalan bagi Mbak Sri untuk menjadi bagian dari LPP RRI Yogyakarta. Ia kemudian diterima sebagai karyawati sekaligus terus mengembangkan kiprahnya di bidang seni melalui Keluarga Kesenian Jawa RRI Yogyakarta.
Meskipun telah purna tugas pada 2022, semangat Mbak Sri untuk berkesenian tidak ikut berhenti. Ia tetap bergabung dengan Keluarga Kesenian Jawa RRI Yogyakarta dan terus berkarya selama masih mendapat kesempatan dari masyarakat.
| Baca juga: Jejak Panjang Sendratari Ramayana Purawisata |
“Kalau status kepegawaian itu bisa pensiun, tapi kalau berkesenian itu kan panggilan hati. Sampai kapan pun selama saya masih mampu dan karya saya masih diterima masyarakat, ya di situ saya akan terus berkarya,” ungkap perempuan yang dikenal kerap mendapatkan peran sebagai ibu yang bijak tersebut.
Selain aktif di Keluarga Kesenian Jawa RRI Yogyakarta, Mbak Sri juga masih berperan dalam pembinaan generasi muda melalui Komunitas Kethoprak Sleman (KKS). Ia memberikan perhatian kepada para seniwati dan seniman muda yang mulai bermunculan di Yogyakarta.
Mbak Sri mengaku bangga melihat semakin banyak generasi muda yang tertarik menekuni seni kethoprak. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alasan untuk optimistis terhadap keberlangsungan seni tradisi di masa depan.
“Saya bangga, sekarang banyak bermunculan generasi muda seniwati kethoprak di Yogyakarta. Ini menambah rasa optimis bahwa seni tradisi yang membesarkan nama saya ini akan tetap lestari dan berkembang,” ujarnya.
Menurut Mbak Sri, generasi senior memiliki tanggung jawab untuk memberikan dukungan dan arahan kepada generasi muda. Ia menilai perkembangan teknologi modern memberikan tantangan tersendiri bagi generasi muda dalam menjaga kecintaan terhadap seni tradisi.
“Kewajiban kita sebagai yang tua adalah men-support dan mengarahkan agar mereka tidak salah arah. Apalagi sekarang era teknologi modern, apa-apa serba canggih. Kalau kita kurang waspada, ya bisa kesasar,” katanya.
Ia juga menyadari bahwa perkembangan seni tradisi tidak selalu berjalan tanpa pro dan kontra. Karena itu, para pelaku seni, khususnya generasi muda, perlu mampu memilah dan memilih lingkungan pergaulan serta sumber pembelajaran yang tepat.
“Pro dan kontra pasti ada, tetapi kita memang harus pandai memilah dan memilih, termasuk juga dalam bergaul dan belajar seni tradisi,” ujarnya.
Mbak Sri mengapresiasi perhatian pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, terhadap perkembangan seni dan budaya. Menurutnya, dukungan tersebut merupakan modal penting bagi keberlangsungan seni tradisi.
Namun, ia mengingatkan agar berbagai fasilitas dan dukungan yang diberikan pemerintah tidak membuat rasa cinta serta handarbeni atau rasa memiliki terhadap seni budaya menjadi luntur. Sebaliknya, dukungan tersebut harus semakin memperkuat kecintaan masyarakat terhadap seni tradisi.
“Fasilitas yang diberikan ini jangan malah membuat rasa cinta dan handarbeni kita menjadi luntur, tetapi harus sebaliknya. Sesuai dengan status Yogyakarta sebagai daerah istimewa. Bukan hanya karena sejarahnya, tetapi juga didukung yang lain, nah di antaranya ya seni budaya ini,” katanya mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....