Usia 68 Tahun, Semangat Hadi Suwignyo Melestarikan Kethoprak

  • 30 Agt 2026 10:23 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman — Usia boleh terus bertambah, namun semangat untuk berkesenian tidak boleh ikut luntur. Prinsip itulah yang terus dipegang Hadi Suwignyo, pria berusia 68 tahun warga Kuncen, Girikerto, Kapanewon Turi, Sleman, Yogyakarta. Di tengah kesibukannya sebagai pedagang kelapa dan mengelola usaha keluarga, kecintaannya terhadap seni tradisi kethoprak tetap menyala hingga saat ini.

Bagi Hadi, kethoprak bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang. Kesenian tradisional tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak puluhan tahun lalu. Meski tidak dijadikan sebagai profesi utama untuk mencari nafkah, dunia seni justru menjadi ruang baginya untuk bersilaturahmi, berkumpul, sekaligus menjaga semangat hidup.

Hadi mengaku mulai mengenal dan berlatih kethoprak sejak era 1980-an. Saat itu, hampir setiap padukuhan di wilayah tempat tinggalnya memiliki kelompok kethoprak. Kondisi tersebut membuat dirinya cukup sering diminta untuk membantu berbagai kegiatan pementasan.

“Saya mulai berlatih kethoprak sejak tahun 80-an. Kebetulan di daerah saya saat itu boleh dibilang setiap padukuhan ada kelompok kethoprak, sehingga saya sering diminta untuk membantu,” ujar Hadi.

Keterlibatannya tidak sebatas tampil di atas panggung. Ia bersama para pelaku seni lainnya juga kerap ikut menanggung biaya pementasan melalui iuran. Bagi Hadi, pengorbanan tersebut bukanlah sebuah beban karena sudah tumbuh kecintaan yang kuat terhadap seni tradisi.

“Bukan hanya sekadar ikut pentas, tetapi juga ikut iuran untuk biaya pentas itu sendiri. Tapi karena sudah terlanjur cinta, hal seperti itu sudah biasa kami lakukan,” ucapnya.

Kecintaan Hadi terhadap seni tradisi kemudian semakin kuat ketika di Kalurahan Girikerto berdiri Paguyuban Pamong Budaya. Saat itu, dirinya mendapat ajakan dari Harto, mantan Lurah Girikerto, untuk ikut terlibat dalam paguyuban tersebut.

Tanpa banyak pertimbangan, Hadi langsung menerima ajakan tersebut. Hingga kini, ia masih aktif berkesenian di bawah pembinaan Lurah Girikerto, Sudibyo, S.Pd.

“Ketika di Kalurahan Girikerto berdiri Paguyuban Pamong Budaya, saya diminta oleh Pak Harto, mantan Lurah, untuk ikut terlibat di dalamnya. Tanpa berpikir panjang langsung saya jawab sendika. Sampai saat ini, di bawah binaan Lurah Bapak Sudibyo, S.Pd., saya masih aktif,” katanya.

Di kalangan pelaku seni tradisi di wilayah Kapanewon Turi, nama Hadi Suwignyo atau yang akrab disapa Mbah Wignyo sudah cukup dikenal. Pengalamannya selama puluhan tahun membuatnya disebut sebagai salah satu tokoh senior dalam lingkungan seni tradisi setempat.

Dalam berbagai pementasan kethoprak, Mbah Wignyo juga cukup sering dipercaya memerankan tokoh antagonis. Karakter tersebut menjadi salah satu peran yang lekat dengan kiprahnya di atas panggung.

Namun, di luar dunia kesenian, kehidupan Hadi tidak jauh dari aktivitas ekonomi masyarakat pedesaan. Sehari-hari ia dikenal sebagai pedagang kelapa yang memasok dagangannya kepada para bakul jadah tempe di kawasan wisata Kaliurang.

Tidak hanya berdagang kelapa, Hadi bersama keluarganya kini juga disibukkan dengan kegiatan beternak kambing etawa serta mengolah susu kambing. Berbagai aktivitas tersebut menjadi bagian dari kesehariannya bersama keluarga.

Meski demikian, kesibukan mencari nafkah tidak membuatnya meninggalkan dunia seni. Justru menurut Hadi, berkesenian memberikan banyak manfaat bagi dirinya, terutama dalam menjaga hubungan sosial dan membuat hidup tetap aktif.

“Bagi saya, berkesenian adalah sarana silaturahmi, guyub rukun, dan juga memperpanjang umur. Karena di situ saya bisa menyalurkan hobi dan bertemu dengan saudara. Bahkan tidak jarang di situ juga terjadi transaksi dagangan,” ujarnya.

Dukungan keluarga juga menjadi salah satu alasan Hadi mampu terus aktif berkesenian. Istri dan ketiga anaknya memahami kegemarannya terhadap kethoprak dan memberikan keleluasaan selama kegiatan tersebut tetap membuatnya sehat dan bahagia.

“Kebetulan istri dan anak-anak saya mendukung. Yang penting Bapak sehat, begitu pesannya setiap saya mau ikut ngethoprak,” kata suami Sudarmi tersebut.

Bagi Hadi, menjadi bagian dari pelestarian seni tradisi bukan hanya persoalan tampil di panggung. Lebih dari itu, ia ingin kehadirannya dapat memberikan contoh dan menumbuhkan semangat generasi muda untuk tidak melupakan kesenian warisan leluhur.

Ia berharap seni kethoprak dan berbagai seni tradisi lainnya tetap mendapatkan tempat di tengah perkembangan zaman. Menurutnya, keberadaan generasi senior dalam dunia seni harus dibarengi dengan munculnya generasi muda yang bersedia meneruskan estafet pelestarian budaya.

“Semoga keberadaan saya ini bisa bermanfaat, setidaknya bisa menambah semangat khususnya kaum muda untuk terus melestarikan seni tradisi warisan leluhur ini,” ucapnya.

Di usianya yang telah menginjak 68 tahun, Hadi belum memiliki keinginan untuk berhenti berkesenian. Selama masih diberi kesehatan dan masyarakat masih memberikan ruang baginya untuk tampil, ia bertekad untuk terus menjaga nyala kecintaannya terhadap kethoprak.

“Sampai kapan pun dan selama masyarakat masih menerima, semangat saya akan terus menyala,” tegas bapak tiga anak itu mengakhiri perbincangannya sore itu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....