"Sebuah Kota, Sebuah Umpama" Membedah Pengalaman Arungi Perkotaan dalam Puisi

  • 27 Agt 2026 22:14 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pengalaman manusia dalam memaknai kota menjadi pembahasan dalam sesi bedah buku Sebuah Kota, Sebuah Umpama karya penyair Ubai Dillah Al Anshori dalam rangkaian Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026. Kegiatan berlangsung di Panggung Pasar Sastra FSY, Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta, Minggu, 23 Agustus sore.

Bedah buku diikuti puluhan pengunjung FSY, terutama pengunjung Pasar Buku Sastra. Mereka tampak antusias mengikuti diskusi hingga selesai, menyimak pembahasan mengenai kota, ingatan, ruang, dan pengalaman manusia yang diolah Ubai ke dalam puisi.

Buku kumpulan puisi yang diterbitkan Elex Media Komputindo tersebut dibedah oleh Ubai Dillah Al Anshori bersama penyair Raudal Tanjung Banua, dengan Polancho S Achri sebagai moderator. Diskusi membahas cara Ubai menghadirkan kota, ruang, waktu, dan pengalaman manusia ke dalam puisi.

Sebuah Kota, Sebuah Umpama berangkat dari permenungan mengenai identitas, waktu, memori, serta tafsir terhadap ruang dan suasana sebuah kota. Puisi-puisi di dalamnya tidak semata-mata merekam tempat secara geografis, tetapi mengolah kota sebagai ruang pengalaman dan perjumpaan manusia dengan ingatan.

Karakter tersebut terlihat melalui penggunaan bahasa yang impresionis dan metafora yang tertata. Kota tidak digambarkan secara harfiah seperti sebuah peta, melainkan melalui kesan, suasana, ingatan, dan pengalaman yang ditinggalkannya. Dengan cara itu, kota dalam puisi Ubai menjadi ruang yang menyimpan berbagai cerita dan tafsir.

Salah satu pertanyaan yang diajukan Polancho berkaitan dengan bagaimana pembaca dapat menikmati puisi-puisi dalam buku tersebut tanpa harus datang langsung ke kota atau tempat yang diceritakan.

Menanggapi hal tersebut, Raudal menjelaskan, pengalaman terhadap suatu tempat dalam karya puisi berpotensi kehilangan jejak apabila pembaca tidak memiliki referensi mengenai kota yang dibicarakan. Namun, pendekatan Ubai dinilai lebih cair karena tidak menjadikan persoalan geografis sebagai titik utama.

"Ubai, membawa pengalaman puitik dari berbagai tempat untuk menghadirkan pengalaman yang lebih universal. Dengan demikian, pembaca tidak harus memiliki pengalaman langsung terhadap sebuah kota untuk dapat menangkap pengalaman yang disampaikan melalui puisi," ucapnya.

Kota, jarak, dan subjek puisi

Raudal juga membahas cara Ubai menempatkan dirinya dalam puisi-puisi tersebut. Penyair tidak selalu menggunakan sudut pandang "aku" untuk menyampaikan kegelisahan atau pengalamannya. Jarak antara "aku", "kau", dan "ia" menjadi bagian dari cara Ubai menentukan subjek dalam puisinya.

Pilihan tersebut membuat pengalaman dalam puisi tidak sepenuhnya terikat pada sosok Ubai sebagai penyair. Subjek puisi justru memberikan ruang kepada pembaca untuk melihat dan merasakan pengalaman melalui sudut pandang mereka sendiri.

Dalam proses penciptaannya, Ubai mulai mengerjakan buku tersebut pada 2023. Ia kemudian melakukan perjalanan dan riset mengenai sejumlah kota di Sumatra, termasuk Aceh, Bengkulu, dan Palembang. Berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses kreatif untuk mengolah kota bukan hanya sebagai tempat, tetapi sebagai pengalaman yang dapat diterjemahkan ke dalam puisi.

Bagi Ubai, perjalanan ke berbagai kota menjadi bagian dari proses membaca ruang. Kota tidak hanya dilihat melalui bangunan, jalan, atau lanskapnya, tetapi juga melalui waktu, ingatan, manusia, dan suasana yang melekat di dalamnya.

Pendekatan tersebut membuat puisi-puisi dalam Sebuah Kota, Sebuah Umpama tidak berhenti pada upaya menggambarkan sebuah kota. Puisi menjadi medium untuk merenungkan identitas, perjalanan waktu, dan bagaimana manusia membangun hubungan dengan ruang yang ditempatinya.

Melalui buku tersebut, Ubai menghadirkan kota sebagai ruang pengalaman dan kegelisahan manusia. Satu kota dapat menyimpan banyak cerita, ingatan, dan tafsir yang berbeda. Karena itu, kota dalam puisi tidak hanya menjadi latar, tetapi menjadi bagian dari pengalaman manusia yang terus berubah dan dimaknai kembali.

Sesi bedah buku tersebut menjadi salah satu ruang dalam FSY 2026 untuk mempertemukan karya, penyair, dan pembaca. Antusiasme puluhan pengunjung yang mengikuti diskusi hingga selesai menunjukkan bahwa pembahasan mengenai buku dan sastra masih memiliki ruang perjumpaan yang hidup di tengah masyarakat.

Melalui perbincangan tentang kota dan puisi, sastra kembali ditempatkan sebagai cara untuk membaca ruang sekaligus memahami pengalaman manusia di dalamnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....