“Kematian Kecil yang Kita Pilih" Berkisah Keberagaman Kehidupan Manusia
- 27 Agt 2026 22:49 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta — Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 menghadirkan diskusi buku "Kematian Kecil yang Kita Pilih" dan "Kehidupan-kehidupan Setelahnya" karya Awi Chin di Panggung Pasar Sastra, Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta, Senin, 24 Agustus 2026. Diskusi menghadirkan Awi Chin sebagai penulis dan Ayu Riana sebagai moderator.
Perbincangan membahas proses kreatif Awi dalam menulis kumpulan cerpen sekaligus berbagai persoalan yang diangkat dalam buku, antara lain identitas, keberagaman, tubuh, cinta, dan pengalaman kelompok yang selama ini berada di pinggir arus utama.
Buku yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada Mei 2026 tersebut memuat 13 cerita yang bergerak di antara kehilangan, ingatan, identitas, dan upaya untuk tetap bertahan. Latar cerita berpindah dari Pontianak, Yogyakarta, hingga Bangkok. Buku ini antara lain memberi ruang kepada tokoh-tokoh yang dilupakan, dikaburkan keberadaannya dalam dokumen, kehilangan tempat dalam sejarah, serta mereka yang berusaha mempertahankan identitas dan kehidupannya.
Judul Kematian Kecil yang Kita Pilih dan Kehidupan-kehidupan Setelahnya tidak semata merujuk pada kematian secara harfiah. “Kematian kecil” dalam buku tersebut dapat dibaca sebagai berbagai bentuk kehilangan, sementara “kehidupan-kehidupan setelahnya” mengarah pada upaya manusia untuk melanjutkan hidup setelah mengalami kehilangan, penolakan, atau perubahan dalam dirinya.
Dalam diskusi, Awi menceritakan, proses kreatif penulisan buku yang dimulai sejak Februari 2025. Ia menantang dirinya menulis satu cerpen setiap bulan. Sejumlah cerpen kemudian diterbitkan di berbagai media sebelum dikembangkan menjadi sebuah kumpulan cerita.
Awi mengatakan, buku tersebut tidak lahir dari satu konsep besar yang sudah dirancang sejak awal. Ia menulis berdasarkan gagasan yang muncul, kemudian menemukan hubungan antarkerita setelah sejumlah cerpen terkumpul.
Dalam proses penulisan, Awi juga bereksperimen dengan berbagai bentuk penceritaan, seperti surat, perubahan sudut pandang, dan format yang menyerupai dokumen. Eksperimen tersebut menjadi bagian dari cara Awi mencari bentuk yang sesuai dengan pengalaman dan persoalan yang hendak disampaikan.
Riset juga menjadi bagian penting dalam proses kreatifnya. Awi menggunakan berbagai sumber, mulai dari media sosial, artikel, surat kabar, jurnal, hingga Wikipedia untuk menemukan informasi, fakta, dan perspektif yang kemudian dikembangkan menjadi cerita.
Pembahasan kemudian mengarah pada persoalan tubuh, identitas, seksualitas, perbedaan etnis, dan pengalaman kelompok minoritas, Awi melihat sastra sebagai ruang untuk menghadirkan pengalaman yang belum banyak diceritakan sekaligus memperluas cara pembaca memahami kehidupan orang lain. Ia juga menjelaskan penggunaan nama dan bahasa sebagai bagian dari pembentukan identitas tokoh. Salah satunya melalui penggunaan istilah “Cina” sebagai bentuk reclaiming terhadap identitas yang selama ini dianggap sensitif.
Menurut Awi, kelompok minoritas dari berbagai latar belakang perlu memiliki ruang untuk menuliskan pengalaman mereka sendiri. Keberagaman bahasa dan istilah daerah juga perlu hadir dalam sastra Indonesia agar pengalaman yang diwakili tidak hanya berpusat pada satu latar budaya.
Selain persoalan identitas dan keberagaman, buku tersebut juga memperluas perspektif penceritaan melalui pendekatan non-antroposentris. Dalam sejumlah cerpennya, Awi menghadirkan pohon dan hewan sebagai bagian dari perspektif cerita untuk melihat kehidupan manusia dan persoalan dunia. Penerbit menyebut pendekatan tersebut sebagai salah satu kekuatan buku, bersamaan dengan ruang yang diberikan kepada subjek queer untuk berbicara mengenai tubuh dan rasa.
Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Ismawati Retno mengatakan, kehadiran buku Awi Chin dalam FSY menjadi penting karena sastra tidak hanya berbicara tentang keindahan bahasa, tetapi juga membuka ruang perjumpaan dengan pengalaman manusia yang beragam.
“Sastra memberi kita kesempatan untuk mendengar suara-suara yang mungkin tidak selalu hadir dalam percakapan sehari-hari. Melalui cerita, pengalaman yang berbeda dapat hadir, dibaca, dan dipahami tanpa harus kita alami sendiri,” katanya.
Menurut Ismawati, keberagaman dalam sastra perlu dipahami sebagai bagian dari kekayaan pengalaman manusia. Sastra dapat menjadi ruang untuk saling mengenali, sekaligus merawat keberagaman pengalaman, bahasa, identitas, dan latar kehidupan.
“Festival Sastra Yogyakarta ingin menjadi ruang perjumpaan berbagai gagasan dan pengalaman. Buku ini mengajak kita melihat bahwa di balik identitas yang berbeda, selalu ada pengalaman manusia yang dapat kita dengarkan dan pahami,” ujarnya.
Ismawati menambahkan, diskusi buku juga menunjukkan pentingnya proses kreatif dalam melahirkan karya sastra. Riset, pengalaman, ingatan, dan kepekaan terhadap lingkungan sosial dapat menjadi bahan bagi penulis untuk menghadirkan cerita yang dekat dengan persoalan kehidupan.
Melalui diskusi tersebut, FSY 2026 tidak hanya mempertemukan penulis dan pembaca, tetapi juga membuka ruang percakapan mengenai bagaimana sastra dapat merekam pengalaman yang beragam. Kematian Kecil yang Kita Pilih dan Kehidupan-kehidupan Setelahnya menjadi salah satu pintu untuk membicarakan kehilangan, identitas, keberagaman, serta pilihan manusia untuk tetap bertahan dan melanjutkan kehidupan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....