Pengabdian Dukuh Drono: Melestarikan Seni Kethoprak dan Panatacara
- 20 Agt 2026 09:44 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman – Menjadi seorang pamong memiliki beban moral tersendiri karena setiap langkah selalu diawasi warga. Hal tersebut dirasakan Waluya Jati Kusuma, pria kelahiran 1994 yang menjabat sebagai Kepala Dukuh Drono, Tridadi, Sleman. Pria yang akrab disapa Mas Jati ini menerima amanah tersebut dengan ikhlas sebagai konsekuensi pengabdian. Di luar tugas pemerintahan, ia juga aktif sebagai seniman kethoprak dan panatacara.
Darah seni mengalir dalam diri Mas Jati sejak kecil dari keluarga seniman tradisi. Putra dari Bambang Setyo Budi dan Hernawati Handayani ini sudah dikenalkan dengan gamelan jawa sejak berusia lima tahun.
"Saya dari kecil memang sudah mencintai seni budaya ini dan sampai saat ini rasanya sudah menyatu dalam diri saya," ujarnya, Kamis, 20 Agustus 2026.
Kecintaannya pada seni tradisi terus berkembang hingga ia sering terlibat dalam pergelaran kethoprak tingkat kalurahan, kabupaten, hingga provinsi. Suami Yunita Puspitasari ini menegaskan komitmennya untuk terus belajar seni tradisi selama membawa manfaat bagi masyarakat.
Nilai-nilai dalam seni tradisi pun ia terapkan saat melayani warga dengan memegang teguh filosofi momor, momot, dan momong. Ia percaya bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri sehingga harus pandai menempatkan diri dan tidak merendahkan orang lain.
"Untuk kaum muda, marilah kita cintai budaya negeri sendiri daripada mengunggulkan budaya manca yang belum tentu pas dengan jati diri kita," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....