Semangat pengrajin bambu asal sleman menembus pasar internasional
- 29 Jul 2026 09:20 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Produk kerajinan bambu asal Kabupaten Sleman terus diminati pembeli dari berbagai negara di tengah pergeseran minat kerja generasi muda saat ini. Keunikan serta nilai seni anyaman tradisional dinilai memiliki daya tarik tersendiri dibandingkan produk buatan pabrik.
Sentra Industri Bambu Sendari menjadi salah satu pusat kerajinan unggulan yang turut dipamerkan dalam acara kirab budaya di Teras Malioboro 2, Yogyakarta. Beragam produk seperti kursi, tempat tidur, gazebo, hingga aksesoris anyaman halus dan alat musik tradisional menjadi incaran para pengunjung hingga buyer luar negeri.

Sejumlah pengunjung yang menghadiri acara tersebut turut mengagumi keaslian karya kriya bambu yang dipajang. "Anyaman-anyaman bambu ini bentuknya benar-benar tradisional dan khas. Di era modern sekarang sudah sangat jarang ditemui anyaman bambu yang bentuknya khas," ujar Jeyi (23), wisatawan asal Bantul yang juga hadir dalam acara kirab ini, Selasa, 28 Juli 2026.
Di sisi lain, Pak Radiono (60), pengrajin sekaligus pengelola kelompok "Bambu Indah", mengaku telah meneruskan usaha kerajinan bambu milik keluarganya sejak puluhan tahun lalu. Pria paruh baya tersebut aktif mengenalkan potensi karya lokal dalam berbagai gelaran budaya.
Menurut Radiono, kerajinan bambu lokal memiliki nilai kebudayaan tinggi serta kualitas yang mampu bersaing di pasar global. "Produk kami sudah diekspor ke beberapa negara seperti Prancis, Australia, hingga Inggris. Untuk katalog produk, pembeli juga bisa melihatnya di situs resmi sentraindustribambu.com," ujarnya.
Meski demikian, regenerasi tenaga kerja masih menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan industri kerajinan bambu. Proses pembuatan yang dilakukan secara manual membutuhkan kesabaran serta waktu pelatihan hingga lebih dari satu tahun.
Untuk mengatasi keterbatasan kapasitas produksi, kelompok usaha ini menerapkan sistem kerja sama lintas daerah. Radiono merangkul lebih dari 300 pengrajin yang tersebar di wilayah Bantul, Kulon Progo, hingga Purworejo agar dapat memenuhi permintaan pasar secara tepat waktu. (Afifah zahra)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....