Seni Tradisi dan Kuliner, Simbol Identitas yang Tak Terpisahkan
- 09 Jul 2026 08:06 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Kuliner dan seni tradisi bukanlah dua hal yang berdiri sendiri. Keduanya merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas budaya suatu daerah yang saling melengkapi.
Gus Heru, seorang pengamat sekaligus pelaku budaya, dalam program Dialog Pendopo di RRI Yogyakarta menjelaskan betapa eratnya hubungan tersebut. Ia mengambil contoh di Yogyakarta, tempat kehadiran kuliner gudeg telah diakui secara luas, bahkan hingga ke luar negeri, sebagai identitas wilayah. Begitu pula dengan Ponorogo yang identik dengan seni reog, tetapi juga tidak bisa dipisahkan dari kuliner sate ponorogo dan sambal pecelnya.
Lebih lanjut, Gus Heru memaparkan bahwa setiap pertunjukan seni budaya atau upacara tradisi hampir selalu menyuguhkan kuliner khas. Di wilayah Sleman atau Yogyakarta bagian utara misalnya, dalam upacara adat di lereng Gunung Merapi, hidangan jadah dan wajik selalu hadir. Hal yang sama terlihat pada pementasan wayang kulit; hidangan tradisional seperti tumpeng, jenang, dan sega golong menjadi pakem yang tidak bisa ditinggalkan.
Menanggapi kekhawatiran mengenai lunturnya budaya di kalangan generasi muda, Gus Heru yang juga Penasihat Pasri (Paguyuban Seni Tradisi Daerah Istimewa Yogyakarta) menjelaskan bahwa inovasi kekinian menjadi kunci utama. Melalui Pasri, para seniman mencoba mempertahankan seni tradisi dan budaya lewat kemasan modern yang disesuaikan dengan preferensi anak muda saat ini.
"Ritual dan budaya adalah hal yang dilakukan berulang-ulang pada waktu yang sama secara konsisten. Oleh karena itu, menjaga konsistensi nilai tradisi, baik seni maupun kuliner, di tengah gempuran modernisasi adalah langkah krusial demi menjaga keberlanjutan identitas bangsa," ujarnya.
Sementara itu, mempertahankan pakem atau aturan baku pada zaman sekarang diakui memicu tantangan tersendiri bagi generasi muda. Dr. (Cand.) Arya Ariyanto, S.E., M.M., seorang seniman yang juga menggeluti bisnis kuliner, mengungkapkan bahwa pakem dalam tradisi idealnya memang harus tetap dijalankan.
Meski demikian, Arya tidak menampik adanya kebutuhan akan kreativitas di era modern. Ia menilai kemunculan seni kontemporer sangat diperlukan agar generasi sekarang tetap tertarik, merasa relevan, dan mau mendekati budayanya sendiri.
Hal serupa juga terjadi dalam dunia kuliner. Arya mencontohkan saat muncul inovasi bakpia kukus yang sempat menimbulkan perdebatan di masyarakat. "Pada umumnya, pembuatan bakpia asli dilakukan melalui proses pemanggangan (oven). Ketika inovasi bakpia kukus muncul, komunitas sempat melayangkan protes karena dinilai keluar dari pakem," katanya.
Akhirnya, produk inovasi tersebut memilih untuk tidak menggunakan nama bakpia secara langsung guna menghormati tradisi turun-temurun. Bagi Arya, fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun pakem penting untuk dijaga, inovasi dinilai tetap diperlukan agar produk seni, budaya, dan kuliner bisa terus diterima oleh perkembangan zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....