Generasi Muda Rawat Seni Gaya Yogyakarta di Era Digital

  • 11 Mei 2026 12:32 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID,Yogyakarta - Pelestarian kebudayaan dan seni tradisi bukan sekadar upaya menyimpan warisan masa lalu di dalam museum, melainkan tentang bagaimana warisan tersebut terus hidup dan dipraktikkan. Di era modernisasi ini, generasi muda memegang peran krusial sebagai pewaris yang menentukan apakah seni tradisi akan tetap bertahan, tumbuh, atau justru perlahan hilang ditelan zaman.

Melalui siaran langsung program "Kawruh" di RRI Pro 4 Yogyakarta pada Senin, 11 Mei 2026, Pembina UKM Kesenian Jawa Gaya Yogyakarta Universitas Gadjah Mada (Swagayugama) sekaligus perwakilan Pengurus Daerah Kagama DIY, Dr. Novi Kusuji I.M., M.Hum., menegaskan pentingnya posisi anak muda. Ia menyebut bahwa generasi muda tidak diharapkan hanya menjadi penikmat pertunjukan.

"Seni tradisi gaya Yogyakarta tidak akan cukup hanya disimpan di sebuah museum, diarsipkan dalam dokumentasi, atau dipentaskan oleh generasi yang senior saja. Kebudayaan hanya benar-benar hidup apabila terus dipraktikkan oleh generasi berikutnya," ujar Dr. Novi.

Tantangan pelestarian di tengah gempuran budaya asing turut dirasakan langsung oleh generasi muda pelaku seni. Mahasiswa Fakultas Teknik UGM yang juga anggota tari UKM Swagayugama, Sekar Mawardah Sari Ananto, menyebutkan bahwa modernisasi yang kental akan budaya barat melalui media sosial justru dapat diubah menjadi peluang strategis.

"Tantangannya adalah modernisasi melalui media sosial. Namun, hal itu justru dapat dimanfaatkan sebagai jembatan untuk mengajak anak muda dengan mengemas budaya melalui media sosial yang terus mereka tonton, tanpa menghilangkan pakemnya dari budaya Jawa ini,"ucap Sekar.

Lebih lanjut, Dr. Novi memaparkan bahwa pelestarian budaya tidak berarti harus membekukan tradisi secara kaku. Inovasi dalam bentuk alih wahana atau transformasi medium sangat diperbolehkan agar lebih menarik dan mudah diakses, misalnya melalui kanal YouTube atau TikTok. Meski mediumnya berubah menjadi konten audio visual modern, formula utama serta roh filosofis dari seni gaya Yogyakarta harus tetap dipertahankan.

Seni gaya Yogyakarta sendiri dikenal adiluhung karena menanamkan nilai-nilai yang relevan sepanjang masa, salah satunya adalah perpaduan konsep Wiraga (gerak), Wirasa (penghayatan rasa), serta Wirama (keselarasan irama). Bagi Sekar, mempraktikkan tarian klasik gaya Yogyakarta yang halus dan mengalun sangat berdampak pada pembentukan karakternya di kehidupan sehari-hari.

"Yang sangat amat berdampak itu justru melatih sabarnya. Gerakan yang mengalun dan lembut itu butuh keseimbangan ego dan rasa. Bagaimana caranya kita mengatur pikiran kita agar tetap tenang, lalu menghafal gerakan, sehingga rasa menari itu bisa dirasakan oleh penonton," ujar Sekar.

Sebagai langkah pelestarian jangka panjang, edukasi dan regenerasi seniman tradisional idealnya dipersiapkan sejak usia dini. Dr. Novi mengingatkan bahwa banyak maestro seni yang kini telah berusia lanjut, sehingga ruang belajar, ruang tampil, dan kesempatan berkarya bagi anak muda seperti pementasan rutin yang digelar oleh Swagayugama dengan dukungan para alumni Kagama menjadi kunci utama keberlanjutan ekosistem seni.

"Seni tradisi itu bukan sekadar jejak masa lalu, melainkan napas yang menghubungkan generasi demi generasi. Generasi muda bukan hanya pewaris budaya, tetapi juga cahaya yang akan membawa seni gaya Yogyakarta tetap hidup, tumbuh, dan berbicara kepada zaman," ujar Dr. Novi.(mayang)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....