Tradisi Ruwatan, Menjaga Jati Diri Bangsa di tengah Modernitas

  • 14 Apr 2026 22:16 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Tradisi Ruwatan sering kali dipandang sebagai praktik mistis yang usang dan mulai ditinggalkan oleh masyarakat modern, di mana ritual ini kerap dianggap hanya sebagai sisa-sisa kepercayaan masa lalu tanpa relevansi di era digital. Namun, eksistensi Ruwatan justru tetap bertahan sebagai mekanisme spiritual dan strategi kebudayaan bagi masyarakat Jawa untuk mencapai harmoni serta membuang sengkala atau kesialan hidup di tengah gempuran zaman.

Dalam bincang-bincang hangat di acara “Suara Budaya Nusantara” RRI Pro 4 Yogyakarta, Senin, 13 April 2026, budayawan Jawa, Ki Saparjan, mengungkapkan bahwa esensi utama dari Ruwatan adalah proses penyucian diri dan lingkungan yang bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan hidup manusia dengan alam semesta.

Menurut Ki Saparjan, Ruwatan tidaklah bersifat tunggal. Ia menjelaskan bahwa indikator keberhasilan sebuah prosesi Ruwatan bukanlah pada kemegahan sesajinya, melainkan pada ketenangan batin dan perubahan positif yang dirasakan oleh pelakunya. Ruwatan sendiri terbagi menjadi tiga kategori utama: Ruwatan Murwakala yang berfokus pada penyucian jiwa manusia, Ruwatan Makukuhan untuk membersihkan benda atau bangunan, serta Ruwatan Massal yang dilaksanakan secara kolektif untuk meringankan beban biaya penyelenggaraan.

"Ruwatan adalah proses pembersihan atau penyucian diri dari segala bentuk kesialan hidup yang dalam mitologi Jawa disebut sebagai Sukerto. Terdapat sekitar 50 jenis kriteria orang yang dianggap perlu menjalani penyucian ini, mulai dari anak tunggal atau Ontang-anting, hingga formasi lima bersaudara laki-laki atau Pandawa. Tujuannya agar hambatan rezeki dan beban hidup yang berat bisa terangkat," ujar Ki Saparjan.

Kini, tantangan terbesar bagi tradisi ini bukan lagi soal eksistensi, melainkan fenomena "salah kaprah" di mana prosesi tradisi diringkas sedemikian rupa demi kepraktisan tanpa memahami pakem yang benar. Ki Saparjan menyoroti banyaknya pihak yang hanya meniru ritual melalui informasi dari internet tanpa melalui bimbingan ahli atau dalang peruwat yang kompeten.

Untuk memastikan nilai-nilai ini dapat diterima oleh generasi muda atau Gen Z, Ki Saparjan memberikan pemahaman yang lebih logis dan ilmiah terhadap simbol-simbol budaya. Salah satu contohnya adalah penjelasan mengenai filosofi sesaji atau sajen yang sering disalahpahami. Pihak praktisi menekankan bahwa sajen sejatinya adalah akronim dari "Sae kagem wong siji", yang berarti kebaikan yang dipersembahkan untuk sesama dalam bentuk sedekah makanan yang nantinya dinikmati secara bersama-sama.

Tak hanya fokus pada ritual fisik, para pelaku tradisi juga diajak untuk memahami Ruwatan sebagai kebutuhan spiritual yang mendalam. Dalam sesi tanya jawab dengan pendengar, muncul kesaksian dari Teh Dinda di Bogor mengenai anggota keluarganya yang mendapatkan ketenangan batin dan keharmonisan hidup setelah menjalani prosesi perbaikan nama sebagai salah satu ikhtiar budaya.

"Langkah pelestariannya harus dimulai dengan memberikan pemahaman yang benar. Kita tidak boleh hanya melihat kulitnya saja, tetapi harus mampu menjelaskan makna di balik simbol-simbol tersebut agar generasi muda merasa setara dan memiliki kedekatan dengan identitas budayanya sendiri," kata Ki Saparjan kepada para pendengar.

Keberlanjutan tradisi ini tidak lepas dari upaya kolaboratif untuk menjadikan budaya sebagai benteng bangsa. Dengan semangat menjaga jati diri di tengah arus globalisasi, Ki Saparjan berharap ekosistem kebudayaan di Daerah Istimewa Yogyakarta dapat terus berkembang menjadi ruang yang aman bagi tradisi untuk beradaptasi tanpa kehilangan esensinya. Hal ini diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk tidak lagi melihat budaya sebagai warisan yang mati, melainkan sebagai kekuatan dinamis yang menunjang kemandirian spiritual dan sosial bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....