Menjaga Marwah Tradisi dalam Kesederhanaan Tari Gagrag Ngayogyakarta
- 07 Apr 2026 09:12 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Estetika seni pertunjukan saat ini dinilai sering terjebak pada kemewahan yang glamor namun kehilangan kedalaman ruh karakternya. Dalam diskusi di program "Kawruh" RRI Pro 4 Yogyakarta, Senin 6 April 2026, Kinting Handoko, M.Sn., Kandidat Doktor Sastra, dan Budaya Daerah di Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), sekaligus pakar budaya dari APEBSKID (Afiliasi Pengajar, Peneliti Budaya, Bahasa, Sastra, Komunikasi, Seni, dan Desain) Yogyakarta, mengungkapkan kegelisahannya terhadap pergeseran nilai dalam tata rias dan busana tari yang cenderung mengabaikan pakem demi kepraktisan semata. Ia menilai bahwa kekuatan sejati Tari Gagrag Ngayogyakarta justru terletak pada kesederhanaan yang elegan serta kejujuran ekspresi yang muncul dari penjiwaan karakter yang mendalam.
Sebagai peneliti rias dan busana, ia menekankan bahwa kekuatan gaya Yogyakarta bukan pada gemerlap payet, melainkan pada ketepatan visual yang mencerminkan watak tokoh secara jujur. Ia menolak penggunaan atribut instan seperti kumis tempelan demi menjaga integritas seni yang harus dipertahankan dari pengaruh budaya luar yang bersifat kapitalistik.
"Busana tari Yogyakarta itu cenderung sederhana, tidak mengandalkan payet yang gemerlap, namun tetap terlihat sangat elegan dan berwibawa. Kekuatannya ada pada bagaimana penari mampu menghidupkan karakter yang dibawakan. Bahkan untuk rias, kita tidak menggunakan kumis tempelan, melainkan digambar langsung untuk menyesuaikan karakter spesifik seperti Kambeng, Kinantang, atau Bapang. Hal ini dilakukan agar audiens tidak hanya melihat penampilan fisik, tetapi juga merasakan kehadiran ruh tokoh tersebut," jelas Kinting.
Selain teknis riasan, penggunaan kain dodot ageng sepanjang lima meter juga disoroti sebagai bentuk penghormatan tertinggi terhadap sejarah. Meskipun dalam perkembangannya muncul alternatif busana yang lebih ringkas, ia tetap mendorong standar kualitas yang ketat agar keagungan tarian tetap terjaga.
"Detail busana seperti penggunaan kain dodot ageng merupakan bentuk penghormatan terhadap pakem tradisi. Meskipun muncul dodot alit yang lebih praktis untuk keperluan akademis, standar kualitas dan kontrol estetika tetap menjadi prioritas utama agar keagungan tarian tetap terjaga meski dipentaskan di luar lingkungan keraton. Tujuannya adalah agar seni ini menjadi identitas yang mampu membentengi masyarakat dari pertunjukan yang bersifat hampa makna," tambahnya.
Dengan pemeliharaan pakem yang disiplin, Tari Gagrag Ngayogyakarta diharapkan tetap menjadi mercusuar budaya yang mengajarkan kejujuran dan etika. Bagi para praktisinya, menjaga keaslian rias dan busana adalah bentuk komitmen untuk menghadirkan keindahan yang tulus, sekaligus memastikan warisan Keraton Yogyakarta ini tetap relevan sebagai instrumen pembentuk jati diri bangsa di tengah arus sekulerisasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....