Gulai Kambing, Tradisi Santapan Berbuka Bulan Ramadan di Masjid Gedhe Kauman
- 08 Mar 2026 15:55 WIB
- Yogyakarta
Video
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Aroma rempah yang kuat dan gurih menyeruak beriringan dengan lantunan ayat suci serta riuh jamaah yang memasuki pelataran Masjid Gedhe Kauman. Bagi warga Yogyakarta, aroma ini merupakan penanda sebuah tradisi yang telah bertahan selama puluhan tahun yang tetap terjaga di Masjid yang akan berusia 253 tahun pada bulan Mei mendatang.
Tradisi yang hadir setiap Kamis selama bulan Ramadan yang legendaris ini tidak hanya sekadar menyediakan menu berbuka puasa. Namun, diungkapkan Agus Suratin, Panitia Takjil Gratis Masjid Gedhe Kauman, sajian gulai kambing sudah menjadi identitas masjid, bahkan sudah ada sejak ia masih kecil.
Sembari duduk bersila di pelataran Masjid, pria paruh baya ini menceritakan, sajian ini memang sudah ada turn temurun, bahkan ia mengaku, tidak mengetahui secara pasti kapan tradisi sajian setiap hari Kamis ini ada di Masjid Gedhe Kauman, namun tujuan utama hadirnya menu takjil daging kambing ini agar masyarakat bisa menikmati santapan yang dahulu setiap orang tidak bisa menjangkaunya.
Agus mengungkapkan, Jika dahulu warga dan pengurus masjid memasak sendiri secara gotong royong dan menyajikannya di atas piring, kini skala pembagiannya telah meluas seiring meningkatnya jumlah donatur dan jemaah. Untuk menjaga kelancaran distribusi, pihak masjid kini menggandeng lima katering profesional.
Namun, standar yang ditetapkan tidak main-main. Pengelola masjid menerapkan aturan ketat, jika masakan katering tercium bau atau rasa yang tidak layak, pihak katering wajib mengganti seluruh porsi tersebut.
Tradisi unik yang ada di setiap bulan Ramadan ini menjadi salah satu cirikhas dan kemeriahan bulan yang dinantikan setiap umat muslim, bahkan masyarakat yang sengaja berburu takjil yang hanya ada di bulan ini.
Salah satu Jemaah masjid Gedhe Kauman, Asep mengaku baru pertama kali turut serta dalam menikmati hidangan berbuka di Masjid Gedhe Kauman. Menurutnya, selain menarik, ada momen yang tidak bisa terlupakan dari sebuah santap berbuka bersama di masjid yang di bangun pada masa pemerintahan Hamengkubuwono Pertama.
Konon, akar tradisi ini sudah ada sejak zaman Kiai Ahmad Dahlan. Meski format penyajiannya berubah dari piring ke bungkusan katering, esensi "sedekah kambing" ini tetap dijaga sebagai penghormatan terhadap keinginan para donatur yang ingin berbagi kebahagiaan melalui hidangan istimewa.
Bagi pengunjung Masjid Gede Kauman, semangkuk gulai kambing ini bukan sekadar pelepas lapar setelah seharian berpuasa, melainkan simbol kehangatan komunitas dan keteguhan merawat warisan leluhur di tengah arus modernisasi Yogyakarta. Selain Gulai pada hari Kamis, Jemaah bisa menikmati aneka menu yang disiapkan dalam hidangan berbuka puasa pada hari-hari lainnya, seperti sayur lodeh, brongkos, hingga sambal goreng krecek yang tidak kalah menjadi hidangan yang digemari Jemaah.