Bijak Mengelola Keuangan ditengah Maraknya Godaan Finansial Digital
- 07 Sep 2026 19:00 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta — Kemudahan teknologi digital membuat masyarakat semakin mudah mengakses berbagai layanan keuangan, mulai dari pinjaman hingga investasi. Kondisi tersebut perlu diimbangi dengan sikap bijak agar masyarakat tidak terjebak dalam keputusan finansial yang dapat membebani kehidupan di masa depan.
Hal tersebut disampaikan Ustaz Muslih Purnomo, M.Pd.I, anggota Ikatan Penyuluh Agama Islam (IPAI) DIY, dalam program Mutiara Pagi RRI Yogyakarta, Senin 7 September 2026.
Menurut Muslih, masyarakat saat ini dapat memperoleh pinjaman hanya dengan beberapa ketukan di layar ponsel. Kemudahan serupa juga terjadi dalam aktivitas belanja karena masyarakat tidak perlu datang langsung ke pasar atau toko untuk membeli barang.
Selain itu, berbagai tawaran investasi juga semakin mudah ditemukan melalui perangkat digital. Menurutnya, tawaran investasi yang muncul di layar gawai sering kali terlihat menarik sehingga dapat menggoda masyarakat untuk mengambil keputusan secara tergesa-gesa.
Muslih mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menerima berbagai tawaran finansial yang muncul di media digital. Menurutnya, keputusan finansial yang dilakukan tanpa pertimbangan matang pada hakikatnya dapat menjadi bentuk menggadaikan kehidupan di masa depan.
“Intinya, kita jangan tergesa-gesa karena itu adalah sifat setan,” ujar Muslih.
Ia menjelaskan, masyarakat perlu memperhatikan keberkahan dalam mengelola harta. Menurutnya, nafkah yang berkah dapat memberikan ketenteraman jiwa, sedangkan harta yang diperoleh melalui cara yang tidak jelas berpotensi menimbulkan persoalan dalam kehidupan.
Untuk mengelola keuangan keluarga secara bijak, Muslih menyampaikan sejumlah langkah yang dapat diterapkan masyarakat.
Pertama, masyarakat perlu membuat skala prioritas dalam menggunakan pendapatan. Kedua, masyarakat perlu mengendalikan nafsu belanja dengan menerapkan sikap qanaah dan menunda pembelian yang belum menjadi kebutuhan. Ketiga, masyarakat dianjurkan memperbanyak infak sebagai salah satu upaya membuka keberkahan harta.
| Baca juga: Joni Endardi: Cara Berbahasa di Ruang Publik |
Sementara itu, menanggapi pertanyaan pendengar bernama Nanik mengenai tetangga yang sering meminjam uang tetapi tidak mengembalikannya, Muslih menjelaskan pentingnya menjaga keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, Islam menganjurkan umat untuk menolong orang yang sedang mengalami kesusahan. Namun, sikap tolong-menolong tidak boleh dilakukan secara ceroboh apabila tindakan tersebut justru merugikan diri sendiri dan keluarga.
Ia menekankan pentingnya tawazun atau keseimbangan antara menjaga hubungan bertetangga dan memenuhi kebutuhan keluarga. Masyarakat tidak perlu merasa bersalah untuk menolak memberikan pinjaman apabila terdapat kekhawatiran bahwa bantuan tersebut justru dimanfaatkan atau membuat kebiasaan buruk terus berlangsung.
Muslih menegaskan, kebutuhan dan nafkah keluarga harus menjadi prioritas. Setelah kebutuhan keluarga terpenuhi, masyarakat tetap dapat membantu tetangga sesuai kemampuan dan kondisi keuangannya.
Dengan demikian, masyarakat diharapkan mampu menjaga hubungan sosial sekaligus mengelola keuangan keluarga secara bijak agar tidak terjebak dalam godaan finansial yang dapat berdampak pada kehidupan di masa mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....