Mempelajari Sejarah Kuliner, Warung Mbak Sri menyajikan Masakan Blendrang

  • 07 Sep 2026 06:57 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Muntilan - Memiliki akar sejarah panjang yang diyakini telah ada sejak era Perang Pangeran Diponegoro, kuliner tradisional blendrang tetap bertahan menjadi santapan khas di Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan. Pada masa perjuangan dahulu, makanan olahan balungan ini biasa disantap oleh pasukan Pangeran Diponegoro sebagai pengisi energi di medan laga. Hingga kini, salah satu penjaga tradisi tersebut adalah Warung Blendrang Mbak Sri yang dikelola oleh Ibu Sri Ningsih di Dusun Bintaro selama 25 tahun.

Sensasi rasa blendrang ini dikenal gurih, hangat, dan kaya akan rempah berkat kuah kentalnya yang berpadu dengan kaldu balungan ayam maupun kambing. Kekentalan kuah tersebut diperoleh murni dari larutan tepung gandum, bukan tepung maizena, yang dimasak bersama racikan rempah tradisional seperti jahe, kencur, bawang merah, bawang putih, dan taburan daun bawang segar.

Waktu terbaik untuk menikmati semangkuk blendrang hangat adalah pada saat sarapan menuju ke makan siang. Keistimewaan rasa racikan Ibu Sri Ningsih pun tetap terjaga karena seluruh bumbu rempah dihaluskan menggunakan metode tumbuk manual dengan cobek batu.

Kuliner Blendrang Menjadi Sebuah makanan yang kaya akan Sejarah (Foto: Tim Dokumentasi KKN STMM Sadana Gunungpring)

"Semua bumbu rempah ditumbuk manual dengan cobek, tidak memakai blender sama sekali. Cara tradisional ini penting supaya minyak alami dan aroma wangi dari rempahnya bisa keluar maksimal ke dalam kuah kaldu balungan," ujar Ibu Sri Ningsih Wawancara bersama RRI Minggu, 6 September 2026.

Daya tarik rasa yang autentik serta harga yang sangat merakyat, yakni Rp5.000 per porsi baik untuk varian ayam maupun kambing, membuat ritme penjualan di warung ini berlangsung sangat cepat. Buka mulai pukul 10.00 WIB, warung rumahan yang pernah diliput sejumlah stasiun televisi nasional ini langsung dipadati pembeli pada pukul 11.00 WIB dan kerap ludes terjual sebelum waktu Dzuhur tiba.

"Untuk porsi kambing produksinya kami batasi satu panci atau sekitar 20 porsi per hari karena waktu perebusannya jauh lebih lama agar daging pada balungan empuk sempurna. Kalau ayam bisa kami masak ulang sampai total 40 hingga 60 porsi jika pembeli sedang ramai," Ibu Sri Ningsih Wawancara bersama RRI Minggu, 6 September 2026.

Dengan mempertahankan resep turun-temurun dan cara masak tradisional, kuliner blendrang di Dusun Bintaro ini tak hanya sekadar memanjakan lidah para pencinta kuliner lokal, tetapi juga menjadi saksi lestarinya warisan sejarah masa lampau di kawasan Gunungpring.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....